Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Friday, February 25, 2011

my so called inspiration

Lucu deh, setiap kali ketemu orang yang tahu kalau saya punya 3 published books.. pasti pertanyaannya adalah:
"How did you get your inspiration?"

So i asked my selft the same question.
Dan jawabannya .. saya nggak tau.
It just happened.

Tapi...
Saya jadi mikir,
That to most people, writing is mostly about inspiration.
Padahal buat saya nggak.
Justru, to be honest, inspiration is the 'easiest' part.
Yang paling susah itu justru menuangkan semua inspirasi itu ke damam bentuk tulisan.
Cari waktu, disiplin, riset, re-writing.
Basically, how to force yourself to sit and start typing.

Well, at least buat saya yah.
I dont love writing.
Makanya, mungkin itu yang bikin susah.
And i'm not the kindda person who likes to workhard. and writing, is all about working hard..
haha!

ah, sutralah

Thursday, February 10, 2011

To Write or Not To Write

Eits, udah pertengahan February ajah dan saya masih belum melaksanakan niatan ‘suci’ yang saya niatkan tahun lalu.
So much for making resolutions J
Alesan banget gak sih kalau saya bilang semua ini gara2 kerjaan yang lagi super ribet.
Beneran, intenstitasnya lagi meningkat banget sampai rasanya tuh capek banget kalau udah pulang ke rumah.. kepalanya masih penuuuuh dan terasa berat. I barely have energy left deh!
Emang sih, teorinya ‘kemalasan’ dan kekurangan energi itu harus dilawan dengan olah raga (which is salah satu misi saya juga).. tapi tiap hari saya bangun dengan niatan, “Oke nanti sore saya mo olahraga” … Tapi begitu sorenya, setiap pulang kerja saya palingan ngejogrok di sofa dengan alasan : ‘nemenin alyssa nonton tipi dan istirahat sebentar’. Hanya saja yang sebentar jadi lamaaaa deh.. Dan tau-tau udah waktunya tidur jadi rencana sucinya ditunda buat ‘besok’; terus aja begitu…
Tambahan lagi, sekarang setiap senen-kemis, saya les bahasa belanda lagi dari jam 19.00-21.30..

Itu semua bikin saya gak punya waktu buat nulis. Err.. mungkin lebih tepatnya nggak menyediakan waktu.
Namun, satu sisi di kepala saya keep asking, pushing me to write, sementara sisi yg laen bilang ‘no I don’t wanna do it. Not now!’.
Tokoh-tokoh yang sudah saya ciptakan pun meneror saya, menggedor-gedor, meminta ceritanya untuk disampaikan. “Hey” kata si Mike, “I should have been dead by now!”.
Atau “Can you change your story and keep my mother alive?” kata si gadis 9 tahun yang seharus-nya jadi piatu, atau “Yuhuu, can you make me kiss that yummy guy?” kata Lexi.

Kombinasi semua itu bikin nulis jadi terasa seperti beban.
Gak gampang untuk nyuekin ‘teror-teror’ itu, tapi gak gampang juga untuk menyediakan waktu dan energi buat menulis.
Sometimes, you just have to choose your priorities. Dan saat ini, menulis ada dalam daftar terbawah di agenda saya.

Jujur, aja, kadang saya mikir, mungkin sekalian aja I stop trying. Nggak usah nulis sekalian, biar gak ada beban, and hopefully the terrors would stop.
But, will that make me a coward?
Or a quitter?
Dan kalau dulu bisa, kenapa sekarang gak bisa?
Kalau saya berhenti, apakah itu artinya menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dianugerahkan buat saya?
Should I be realistic, or should I push my self harder?
Atau saya bawa santai, dan ‘liat gimana nantinya aja’?

Should I shouldn’t I?
That, my friend, is the question.

Monday, January 10, 2011

Challenge

What is life without a challenge ?
Boring, pastinya.


Karena itu kemaren, saya membuat satu challenge di tahun 2011 ini.
Target saya, tahun ini saya bisa selesai nulis 3 eh 2 aja deh draft (nulis draft ya, buka published books), dan kalau target saya tercapai, saya akan menghadiahi diri saya dengan sebuah.. titttt.. (sensor, haha nyebelin yah!!)


Semalam, saya mengumumkan niat ini sama yayang saya. Dia menyemangati, tapi gak lama kemudian dia ngeliatin saya dengan nyureng, atas-bawah dengan ekspresi -ini-orang-aneh-banget-sih, terus komentar,
"Yaelah, kayak orang susah banget sih lo, cuma mo beli gituan aja ribet bener pake challenge2 segala... tiap bulan juga lo bisa beli kalau mau!"


Hihi.. bener sih emang, i tend to have a philosophy: why make things easy if you can make them difficult! haha


So yay Fanny!
icandoiticandoiticandoit *menyemangati dan mengelabui menghipnotis diri sendiri*

Wednesday, December 29, 2010

The Wedding Games - behind the scenes -

  • Draft novel ini ditulis th 2009. sekitar setengah-nya ditulis ngebut dalam waktu satu minggu saat saya cuti sakit (eh beneran loh sakitnya!). Gusti Allah loves me so much, di saat saya stres karena gak punya waktu buat nyelesein cerita saya, He gave me some time to take a break from the daily routines. Alhasil saya makin puyeng-puyeng tapi bahagia..

  • Proses terbitnya makan waktu sekitar setahun. countless of revisions, adding & deleting scenes.. but hopefully, hasil akhirnya memuaskan yah :)

  • Alyssa protes waktu liat foto saya di cover belakang dan nggak ada foto alyssa.. katanya 'Mama menelantarkan Alyssa' Ya olooo drama banget. Tapi sstt.. emang itu foto sebenernya hasil crop dr foto saya berdua alyssa.. hihi.. mo liat versi aslinya? Silahkan liat di bawah!

  • Masih soal foto, editor saya nawarin buat ganti foto dan mencantumkan foto alyssa juga di back cover(setelah ia tahu al sedih).. tapi saya menolak. Alasannya: takut kalah cantik ntar bersanding sama supermodel :)

  • Tadinya saya pengen bikin Dania sebagai chief editor majalah wanita terkemuka.. Tapi gak jadi. Entah kenapa idenya mandek.. dan tiba-tiba muncul sosok 'bridezilla' - Mandy dalam kepala saya.

  • Sebenernya ini draft ke empat saya.. draft yang ketiga, justru masih belum selesai!

  • Nama Dania itu, saya pinjem dari nama putri kesayangan sahabat SMP saya J

  • Tokoh fave saya di buku : Indra dan Ferdi !

  • Susaaaah banget nyari judul buat buku ini.. Tadinya saya udah niat banget bikin judul bahasa indo.. tapi semua saran saya ditolak mentah2 sama Gramedia. Sampai suatu hari, di pengkolan deket rumah, saya tiba-tiba menemukan 'the wedding games'

  • Saat melihat buku saya, Alyssa langsung mau beli, dia tanya berapa harganya. Saya jawab 5 euro. Terus dia langsung ambil dompetnya (yang isinya koin semua), dan bayar saya 5 cents. 'Segini aja yah mah!' katanya. Pas saya bilang, dia boleh gratis.. dia bilang gak mau.. dan tetep bayar saya 5 cents. she asked if she was my first client (she really use the word 'client'). I told her she's my best 'client' !!!

  • Ini karya pertama saya yang ber-setting di Indo, seneng deh.. selama pembuatan kayak bernostalgia dan ada di Indo beneran!!

Wednesday, December 8, 2010

The Wedding Games - Sinopsis

Temans,
buku ketiga saya (The Wedding Games, Metropop, Gramedia) akan terbit

21 Desember ini yah..
Silahkan diborong diborong diborong...
Yang beli saya doakeun langsing dan cakep selalu.. amin :)


SINOPSIS
Siapa bilang jadi wanita itu gampang ?
Apalagi di jaman modern begini. Emansipasi, justru mensyaratkan tanggung jawab lebih bagi para wanita. Perempuan dituntut untuk maju, cerdas, cantik, dan punya peran penting di masyarakat, tapi harus tetap menjadi istri dan ibu yang ideal bagi keluarganya.

Dania Kartanegara adalah tipikal perempuan urban masa kini.. Ia seorang presenter acara memasak terkenal sekaligus pemilik wedding organizer ternama di Indonesia. Sekilas, hidupnya terlihat sempurna. Namun, tidak banyak yang tahu kalau di balik kesuksesannya, ia menyimpan kesedihan luar biasa akibat ketidakmampuannya menjadi seorang ibu. Di saat ia berusaha menenggelamkan diri pada kariernya yang semakin meroket, pernikahannya pun terguncang.
Haruskah ia meninggalkan karir yang telah dibangunnya dengan susah payah demi menyelamatkan pernikahannya ?

Sementara itu Dion Dirgantara adalah seorang lelaki modern dan mapan. Ia selalu berpendapat bahwa wanita dan pria harus berjalan sejajar, beriringan. Namun di saat karier istrinya melesat tajam, membuat sang istri menjadi idola masyarakat dan semakin sibuk sehingga nyaris tak punya waktu untuknya, egonya sebagai lelaki mulai berontak. Kerenggangan hubungannya dengan sang istri membuatnya mudah terbujuk wanita lain.
Akankah Dion tergoda ?

The Wedding Games,
Sebuah cerita tentang cinta, dengan bumbu feminisme dan dilatarbelakangi oleh kehidupan metropolitan yang sibuk dan modern. Bercerita dari sisi dua anak manusia yang masih saling mencintai, tapi sama-sama keras kepala dan merasa paling benar sendiri. Tapi di saat tak ada yang mau mengalah, bukankah semua pihak akhirnya jadi kalah ?

Wednesday, November 24, 2010

Friday, October 22, 2010

Next Book?

Saya serrrinng ditanya 'kapan buku terbaru kamu terbit?'

Well, karena saya orangnya angot-angotan kalau nulis, maka jawaban yg paling sering keluar adalah 'Sedang dalam proses' alias masih ditulis..
Saat akhirnya satu cerita berhasil saya tamatkan, maka orang akan bertanya lagi, 'kapan terbitnya?'
Pertanyaan-pertanyaan ini bisa berulang kali ditanyakan oleh orang-orang yang sama. Beberapa di antara mereka juga menambahkan embel-embel 'kok lama?'
Atau 'Gimana sih caranya menerbitkan buku?' atau 'Bagaimana prosesnya?'

Kadang-kadang, pertanyaan-pertanyaan ini bikin saya pengen garuk-garuk aspal. Karena itu, saya mau share di sini aja yah, pengalaman saya mulai dari selesai menulis buku sampai buku itu ada di toko buku. Moga-moga berguna, atau paling gak, kalau nanti ada yang mengajukan pertanyaan yang sama ke saya, bisa saya jawab dengan 'Bo, lo baca aje blog gue ye.. ' J

Okeh, lets begin.
  1. Anggap proses menulis (pernah di bahas di sini) sudah selesai, naskahmu sudah dikirim ke  penerbit, (untuk kasus saya, saya kirim langsung ke Yang Mulia Paduka Editor) J
  2. Menunggu
  3. Setelah diperiksa editor, ada beberapa kemungkinan : naskah kamu di tolak mentah-mentah, kamu diminta untuk merevisi naskah untuk 'mencoba lagi', atau naskah diterima dengan catatan kamu harus melakukan revisi. Ada juga sih (mungkin) yang naskah langsung diterima tanpa catatan apa-apa. Tapi kalau begini, kayaknya gak asik banget deh.. beneran. Saya pribadi berpikir, setiap naskah, pasti ada flawnya, dan edior yang baik akan mampu melihat flaw itu dan meminta penulis untuk memperbaiki. Jadi kalau editornya nggak bawel, patut dipertanyakan!
  4. Saya merevisi naskah, kirim balik ke editor
  5. Di suruh revisi lagi
  6. proses 3-5 bisa terjadi berulang kali
  7. editor ok dengan revisi
  8. menunggu (untuk antri di edit, bisa lama atau sebentar, tergantung publishernya. I think the bigger, the longer.. hehe)
  9. mulai editing proses.. Tidak tertutup kemungkinan masih ada permintaan untuk revisi.
  10. sign kontrak
  11. proof read (by.. everyone, the more the merrier)
  12. proof read akhir
  13. diskusi cover - biasanya penulis diminta idenya, kira2 cover model macam apa yang diminta lalu publisher akan mencari designer yg cocok.
  14. tambahan-tambahan dari penulis, misal terimakasih, dll
  15. lay out - juga urusannya publisher
  16. terbit
  17. saatnya penulis banyak-banyak berdoa biar bukunya laku, promosi, dsbJ

Poin di atas tidak mutlak yah. Mungkin cara kerja dengan penerbit lain berbeda. Tapi yah itu bisa dijadikan gambaranlah.. Paling tidak itu yang saya alami.
Poin-poin tersebut juga tidak mutlak berurutan, tapi bisa acak. Intinya, writing is a work that needs your commitment. It's a hard work. Looong and slow process..

Mungkin dari penjelasan di atas, kamu melihat banyak sekali kata 'revisi'. Memang betul.. sedari proses menulis-nya itu sendiri, sampai proses editing yang namanya revisi bisa dilakukan puluhan bahkan ratusan kali.
Jangan juga meremehkan proses editing. Kerja editor itu bukan hanya periksa typo, EYD atau tanda baca yang baik dan benar, tapi juga memastikan tulisan terpoles dengan baik, memperbaiki kekurangan penulis, membuang yang tidak perlu dan sebagainya.
Proof read juga diperlukan karena seorang penulis butuh masukan dari point of view orang lain. Sering penulis terlibat terlalu dalam pada suatu cerita sehingga melupakan beberapa detil. Contoh, di buku pertama saya, saya sempat salah menghitung masa kehamilan si tokoh utama. Untung kesalahan ini ditemukan dan bisa diperbaiki sebelum naik cetak. Atau yang paling sering terjadi, penulis 'lupa' memasukan beberapa detil yang seharusnya berfungsi menunjang cerita. Editor/Proof reader bisa meminta penulis untuk menambahkan detail ini sehingga jalan cerita atau deskripsi si tokoh bisa lebih dipahami pembaca.

Nah, sekarang balik lagi ke pertanyaan di atas.
Kapan buku terbaru saya terbit?
Jawabannya... Insya Allah akhir tahun ini yah J
Wish me luck!


Thursday, August 26, 2010

Buka-bukaan (A story about me, writing and some writing tips)

Caution : Tulisan ini panjaaang, dan membahas tentang seorang Fanny Hartanti and writing . Jangan baca kalau kamu tak mau terjerat pesonanya! Ahahahaha!

Sejak menelurkan dua buku, banyak yang bertanya pada saya 'bagaimana sih kok bisa jadi penulis?'

Err.. jujur ini adalah pertanyaan yang susah banget dijawab. Walaupun sudah berkali-kali ditanya, dan seharusnya saya sudah punya jawaban standar untuk menanggapi, tapi entah kenapa kalau menghadapi pertanyaan ini lagi saya mesti tercenung dulu sebelum akhirnya menjawab dengan gelagepan.

Sejujurnya - sumpah, beneran, nggak boong - saya nggak pernah sekalipun berangan-angan jadi penulis. Bahkan sampai sekarang saya masih suka grogi kalau dibilang, atau menyebut diri saya sebagai 'penulis'.

Bukan, bukan karena saya meremehkan profesi ini. Justru sebaliknya, sebagai seorang kutu buku dari kecil yang begitu mencintai buku sedemikian rupa, saya menganggap pengarang adalah profesi para dewa. Cuma orang-orang dengan bakat luar biasa dan super cerdas yang bisa jadi penulis.

Uhm, well.. at least itu pikiran Fanny kecil (yang mana juga pernah menyangka kalau laki-laki bisa hamil - soo imagine how 'smart' I was!!)

Mangkanya, saya mah nggak pernah kepikiran jadi penulis.

Awalnya, saya menulis untuk membunuh waktu saat mulai tinggal Belgia beberapa waktu yang lalu. That, dan kenyataan betapa mindernya saya dengan status 'menganggur' dan satu niat besar untuk menghasilkan uang untuk menggapai satu cita-cita saya : mengongkosi emak naik haji. Plus, seringnya saya menulis surat dan menjelaskan berulang-ulang tentang kehidupan di Belgia ke keluarga dan teman-teman yang membuat saya iseng berkata 'lama-lama gue jadiin buku aja nih!'. Ditambah lagi keberhasilan seorang teman yang baru mempublikasikan bukunya (waktu itu saya belum tau buku tersebut bakal meledak, bagus deh, kalau nggak pasti saya minder duluan dan gak jadi bikin buku).

Well, that's how I started writing. The rest is history. Anggep aja saya 'kecanduan', untuk mulai menghasilkan karya lain.

Pertanyaan kedua yang juga bikin saya pusing adalah kalau ada yang meminta tips menulis dari saya.

Err. Sumpah, ini lebih susah dari pada ngelahirin! Karena awal saya nulis, seperti diceritain di atas, yah cuma spontanitas. Jadi saya nggak pakai teori apa-apa. Justru setelah buku pertama terbit, saya mulai 'niat' untuk mempelajari dunia tulis menulis. Membaca beberapa buku dan mempelajari tips menulis dari beberapa pengarang. Dari itu semua, plus pengalaman pribadi, saya sampai pada kesimpulan sbb:

  1. don't think too much, just write! Mikirnya nanti aja, kalau mulai meng-edit/rewrite.
  2. buat halaman pertama menarik. Something that can grab yr readers attention immediately.
  3. bersiaplah untuk kerja keras, karena nulis buku itu membutuhkan proses yang panjaaaaang dan ribet.
  4. master the trick untuk mengembangkan cerita tanpa perlu bertele-tele. Hayoohh susahh beeet!
  5. buat sesuatu yang beda. Tema boleh sama bahkan picisan, but write from different angle
  6. attention to details
  7. gunakan imajinasimu habis-habisan, tapi ceritanya tetep harus masuk akal
  8. create a drama but not a sinetron.. hehehe
  9. sabar (apalagi kalau punya editor seperti saya... huaaa, peace tante H!!)
  10. dengar, amati, resapi sekitarmu
  11. jangan bete kalau ada orang curhat, siapa tau bisa jadi inspirasi for next story! Hehe
  12. edit edit edit edit edit edit edit edit
  13. rewrite rewrite rewrite rewrite
  14. riset riset riset
  15. minta tanggapan dari orang-orang yang kamu percaya dan hormati
  16. listen to critics, be open
  17. jangan sakit hati kalau ada yang gak suka karya kamu. Itu mungkin cuma masalah selera (baca: selera mereka jelek! Ahahahaha!!!)
  18. jadilah karaktermu. Menangislah saat dia menangis. Tertawalah saat dia tertawa. Be crazy!
  19. berjaraklah dengan karaktermu. supaya kamu tidak menuliskan dirimu sendiri, dan ceritamu punya ruang untuk berkembang
  20. sediain waktu untuk menulis (ini yang susaaaaah banget buat gue)
  21. berkhayal-lah, anytime anywhere (ini yang gampaaaaang banget buat gue!!)
  22. writers block? Paksain diri buat nulis. Beberapa scenes terbaik saya (menurut saya sendiri loh yahJ) justru ditulis saat saya lagi gagap nulis. Tapi nggak bisa dipaksain juga sih. Ada saatnya you just have to stop, take a break and some distance dulu....

err apa lagi yah???

Ada yang bilang kalau kamu mesti mulai dengan membuat plot. Eh, saya nggak tuh ! Ada yang bilang kamu harus nulis tiap hari.. I don't! Tapi saya ngayal tiap saat. Apakah itu sesuatu yang berhubungan dengan buku saya atau bukan, tapi tetep ngayal jalan terus. Mungkin ini memang hobi saya, mungkin juga ini 'panggilan' untuk menulis kalau kata mbak editor saya.. tapi yang jelas, ngayal, buat saya penting banget. Selain sebagai 'sarana' melepaskan diri dari realitas yang terkadang membelenggu (halah!).. ngayal buat saya bisa juga jadi ajang pelatihan menulis! Ahaha!

Tapi jujur yah, sejak saya jadi 'penulis' (tuh kan.. masih aja saya membubuhi tanda kutip.. haha masih merasa tidak layak !!), saya tuh jadi nggak bisa benar-benar menikmati buku bagus lagi. Selain jadi keseringan menganalisa sebuah buku instead of just enjoying the story, kalau baca buku bagus.. pasti saya minder. Terus jealous. Kepikiran : kok gue nggak bisa bikin buku kayak gini sih???

Untungnya suami saya yang kadang-kadang bijaksana itu bilang "That's good! Itu akan memotivasi kamu untuk bikin buku yang lebh bagus lagi! Keep reading them. Learn from them!"

Hanya saja... saya justru lebih termotivasi saat membaca buku jelek. Soalnya saya jadi mikir, ah begini doang kok bisa terbit. Saya bisa nulis yang lebih bagus! Hehehe sombong sesekali gak papa yah dari pada minder terus?

Pertanyaan ketiga yang sering menghampiri : Apakah saya menulis berdasar pengalaman pribadi?

Jawabnya, Ya.

Tapi bukan berarti saya menulis kisah hidup saya yah. Pengalaman pribadi itu adalah gabungan kisah yang benar-benar pernah saya alami, saya lihat, saya dengar, saya khayalin, atau pengalaman pribadi orang lain yang saya tambahkan bumbu-bumbu!
 
well, udah deh sampai di sini dulu. udah bosen kan?
doain aja buku ketiga saya cepet terbit dan saya jadi 'penulis beneran' :)

Thursday, January 31, 2008

C'EST LA VIE

Baru dapet kabar... katanya bulan depan C'est La Vie mau cetak ulang... Yupieeeeeeeeeeeeee

Saturday, November 3, 2007

COMING SOON.... C'EST LA VIE


Terbit : 13 November !!!
METROPOP GRAMEDIA
Blurb

"Setelah Four Seasons In Belgium dan kini C'est La Vie, Fanny telah membuktikan diri sebagai penulis yang menjanjikan" Clara Ng, penulis

"Masih tetap seperti karya sebelumnya, buku kedua Fanny ini enak dibaca dan nggak ngebosenin. Ide ceritanya yang sederhana nggak membuat novel ini kehilangan bobot. Dia semakin mempertajam pemikiran-pemikirannya tentang isu-isu perempuan dan perbedaan budaya barat vs Indonesia. Itulah beberapa hal dari buku ini yang saya kagumi" Sheila Susan Racz, ex jurnalis, Jerman


A glimpse of the story

Seperti apa sih hidup itu?

Bagi seorang Amara, hidup ini adalah ‘piece of cake’.
Dengan modal kecantikan dan kecerdasannya, dia bisa memiliki segalanya.
Semudah menjentikan jari tangan…

Untuk Ayu, hidup itu harus dijalani dengan sabar dan ndak neko-neko.
Gadis ndeso asal desa kecil di Jogjakarta ini terbiasa hidup susah.
Sampai suatu hari nasibnya berbalik 180 derajat.
Tapi apakah keberuntungan akan selalu menyertainya?

Sementara itu si jenius Karina punya prinsip: ‘Hidup ini keras, Jendral!’
Segala sesuatu harus diraih dengan kerja keras dan usaha.
Termasuk mencari suami…

Ini bukanlah cerita tentang cinta.
Ini adalah cerita tentang persahabatan 3 manusia mengarungi satu masa hidup mereka.
Semua serba mengejutkan.
Serba jungkir balik.
Seperti hidup itu sendiri…

Pesan Penulis

BELI YAHHHHHHHHHHHHHHHHHH !!!

Thursday, November 1, 2007