Pengakuan, saya belum pernah baca Amy Chua's Battle Hymn of the Tiger Mother.
Palingan saya cuma baca excerpt dan komentar-komentar orang tentang buku yang mengguncang dunia parenting itu (halah, berasa Fenny Rose banget sih ngomongnya..
Jujur aja, saya sih nggak gitu tertarik bacanya, dan pandangan saya dalam mengasuh Alyssa beda banget sama cara si Amy ke anak-anaknya. Intinya, i do not want to be a tiger mother. Not at all.
Sampai..
Suatu hari Alyssa pulang sekolah bawa ulangan matematiknya. Bagus hasilnya, tapi ada beberapa yang salah.
Being a perfectionist, dia nggak puas dan minta saya mengajari dia di rumah.
Ya udah, saya ajarin..
Eh tapi, dasar si neng, dia yang minta dijelasin, tapi dia juga yang gak mau dengerin.. *eyesrolling*
Saya sih udah apal dengan 'kekeraskepalaan' si neng. Dia emang gak suka dibilangin dan lebih suka nyoba nyoba sendiri, trial-error, sampai ntar dia frustasi sendiri karena gak dapet-dapet jawabannya.. hihi..
Tapi yang ada saya jadi gemes dong liatnya, tadi minta diajarin giliran mamanya ngajarin gak mau dengerin..
akhirnya... berantem deh!! hahahaha
Sebenernya, saat merasa saya udah mulai esmosi, saya bilang sama si neng, belajarnya ntar aja (maksudnya biar kita berdua sama-sama bisa 'ngadem'.. nenangin diri dulu).
Apalagi, saya jadi keinget sama Amy, dan alarm dalam kepala saya berdenging kencang 'Stop it.. Stop it now.. Dont turn into a tiger Mom!!!'
Eh, si neng maksa.Ya udah deh, kejadian, 2 perempuan "aliran keras" ini pun bentrok.. huhuhuhu.. i felt like the worst mom on earth.
Saya membentak, Alyssa menangis.
Mungkin karena Al udah nervous duluan, dia udah gak bisa mikir lagi. Tapiii.. dia tetep gak mau dengerin kata emaknya. Atau kalau gak, dia bilang mamanya salah karena 'kata ibu guru nggak gitu.. huhuhuhu'
Dengan jiwa yang terguncang, Alyssa nangis-nangis 'aku gak ngerti mama....'.
Air mata semakin bercucuran diiringi sesegukan si neng yang tampangnya udah memelas banget..
Sebenernya saya pengin menghentikan acara belajar mengajar yang lebih mirip dengan penyiksaan anak itu.
Satu tanda tanya besar berkedip-kedip di kepala saya.
Am i pushing her too hard???
Tapi saya pikir tanggunglah buat berhenti. lagian kan dia yang memulai .. dia juga yang harus mengakhiri.. (kok jadi dangdut?)
Saya nggak tau apa yang membuat saya tetep bergeming, dan terus mendorong Alyssa buat terus usaha.
Saya terus bilang ke dia, "Ayo kamu bisa, just concentrate!"
Dalam hati saya yakin kok kalau dia bisa. Dan saya akan terus menunggui dia, sampai dia bisa memecahkan semua soal di depannya.
Tentu ada perang batin yang saya rasakan saat itu.
Tentu ada rasa salah, takut, nyesel, dan sebagainya.
Tapi semua itu kalah dengan besarnya harapan dan keyakinan saya pada Alyssa.
Dan untungnya, insting saya benar.
Gak lama kemudian, si neng berhasil menyelesaikan soal-soal di depannnya.
Saat saya bilang kalau dia benar semua, kita langsung berpelukan kegirangan!
Alyssa keliatan hepi, bangga sama dirinya sendiri,d an paling penting... kepercayaan dirinya pulih.
Sekarang bukan cuma saya yang tau kalau dia bisa, tapi dia sendiri juga tau, kalau dia BISA!
Segala "pertengkaran" kita pun terlupakan begitu saja.
Lagi, pikiran saya balik ke Mbak Amy.
Dia berteori, kalau anak baru bisa enjoy melakukan sesuatu saat dia sudah menguasainya. Dan untuk menguasainya, butuh latihan dan kerja keras yang luar biasa. Dan ortulah, yang harus mendorong dan mensupport si anak sampai dia bener-bener menguasai materi tersebut (walaupun dengan cara yang mungkin "kurang menyenangkan"
Saat itu saya menyepelekan teori tersebut, tapi sekarang, i finally get it. Tetep gak seratus persen setuju sih tapi saya mulai 'memahami' si mbak Amy ini...
Afterall kayak kata theurbanmama; there's always a different story in every parenting style. Ya kan?
:)
Showing posts with label motherhood. Show all posts
Showing posts with label motherhood. Show all posts
Friday, December 23, 2011
Friday, November 18, 2011
foto sekolah
Setiap tahun, di sekolah neng ada foto kelas + individual.
Tahun ini, acaranya diadakan tgl 30 September. Para ortu udah diingetin buat makein baju yang colourful pas tanggal tersebut. Trus kalau punya kaka/adik di sekolah yang sama juga boleh pesen buat foto bareng.
Beberapa hari sebelum kejadian, ada incident poni.
Saya udah sebel ajah, kenapa kok ya kejadiannya pas banget sebelum acara foto-foto.
Kan males, kalau di foto 'resmi' nanti, Alyssa tampangnya culun karena poni jigrak.. *mendelik*
Oya, setelah kejadian poni itu, malemnya saya cukur sekalian poni si neng, biar 'rata'. Tapi saya bikin rada shagy-shagy gitu deh... *shagila-gila emaknya aja motongnya*
Eh, beberapa hari sesudahnya, ternyata malah banyak yang muji poni jigrak si neng.
Mulai dari oma, tante, guru-guru di sekolah dan bahkan beberapa ortu murid yang tau soal 'kejadian sebenernya'.
Tapi tentunya, mereka gak memuji di depan Alyssa. Tau sendiri donggg.. kalau dipuji dikit, yang ada ntar si neng langsung ge-er dan tambahbereksperimen lagi. Salah-salah, ntar temen-temen sekelasnya ikut dicukur juga.. hihi.
Jadi ya gitu, mereka cuma bisik-bisik di belakang, kalau poni neng keren dan trendy banget.. tapi di depan si neng, mereka ikutan 'memarahi'.. Hahaha
Memang orang dewasa itu munafikkkkkk kakaaaaak!!! hihihi
Trus, penasaran dong dengan fotonya si neng dan poni
Silahkan dilihat dan dinilai sendiri yah.. Tapi kalau setuju memang poninya keren, jangan bilangin neng yah.. Diem-diem ajah... hihihi
Dan yang berikut ini adalah foto-foto sekolah 'jadul' neng.
![]() ![]() |
| kelas terakhir TK 2009-2010 |
![]() |
| Kelas I SD **itu kenapa gayanya pake topang dagu segalaaa?** |
Friday, November 11, 2011
eS to the E to the eX
Saya pikir, kita sudah aman saat melewati pembahasan dari mana datangnya bayi sama si neng.
Gak bakal adalagi pertanyaan-pertanyaan 'susah' yang bikin mama papa harus garuk-garuk-aspal dulu buat ngejawabnya..
Sampaiiiii...
Beberapa hari yang lalu, si neng nanya sama papa.
"Papa, apa itu 'having s**?"
Huh? si Papa tentu bengong sejenak ujug-ujug harus menghadapi pertanyaan macam begitu. Untung, saya lagi gak di rumah, jadi si Papa nggak bisa ngeles dan bilang 'sana tanya mama'.. heheheh!
"Em..." akhirnya si Papa berusaha jawab, "ya itu kalau mau bikin bayi"
"Ah, tapi bukan hanya untuk itu papa," si neng sok tahu, "Kadang, orang juga h*ving s** tapi bukan karena mau punya anak*
Glek. Papa makin pucet.
"Lah terus, apa dong?" *smart move honey, when you dont know how to answer, give a question.. :p*
"Iya, itu kalau Miss Vejayjay ditempelin ke Mr. P terus goyang-goyang" sahut Al, lempeng.
*Saya ngebayangin tampang si papa yang pasti mo pingsan*
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari A**o" jawab neng datar menyebut salah seorang sahabatnya di sekolah yang punya kakak yang udah gede-gede.
Gawat yah pergaulan anak jaman sekarang :)
Jujur aja saya juga bingung mesti gimana.
Do I have to have some 'serious talk' with my girl?
Or should I wait?
BUT, since that came from a 7 years old girl who still believes in Sinterklaas..
I decided to wait.
Lagian, pas dia ngomong, gak ada tendensi apa-apa.
Buat Alyssa, itu cuma satu lagi ilmu baru dari sekian banyak ilmu lain yang dia pelajari.
Mungkin gak ada bedanya sama teori-teori tentang kenapa roda berputar, kenapa kalau makan permen kebanyakan bisa bikin sakit perut dan sakit gigi atau kenapa kalau dia lupa bikin PR, ibu guru akan marah.. dsb..
That simple.
What she doesnt know, is that papa almost had a heart attack from her question.
:p
Gak bakal adalagi pertanyaan-pertanyaan 'susah' yang bikin mama papa harus garuk-garuk-aspal dulu buat ngejawabnya..
Sampaiiiii...
Beberapa hari yang lalu, si neng nanya sama papa.
"Papa, apa itu 'having s**?"
Huh? si Papa tentu bengong sejenak ujug-ujug harus menghadapi pertanyaan macam begitu. Untung, saya lagi gak di rumah, jadi si Papa nggak bisa ngeles dan bilang 'sana tanya mama'.. heheheh!
"Em..." akhirnya si Papa berusaha jawab, "ya itu kalau mau bikin bayi"
"Ah, tapi bukan hanya untuk itu papa," si neng sok tahu, "Kadang, orang juga h*ving s** tapi bukan karena mau punya anak*
Glek. Papa makin pucet.
"Lah terus, apa dong?" *smart move honey, when you dont know how to answer, give a question.. :p*
"Iya, itu kalau Miss Vejayjay ditempelin ke Mr. P terus goyang-goyang" sahut Al, lempeng.
*Saya ngebayangin tampang si papa yang pasti mo pingsan*
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari A**o" jawab neng datar menyebut salah seorang sahabatnya di sekolah yang punya kakak yang udah gede-gede.
Gawat yah pergaulan anak jaman sekarang :)
Jujur aja saya juga bingung mesti gimana.
Do I have to have some 'serious talk' with my girl?
Or should I wait?
BUT, since that came from a 7 years old girl who still believes in Sinterklaas..
I decided to wait.
Lagian, pas dia ngomong, gak ada tendensi apa-apa.
Buat Alyssa, itu cuma satu lagi ilmu baru dari sekian banyak ilmu lain yang dia pelajari.
Mungkin gak ada bedanya sama teori-teori tentang kenapa roda berputar, kenapa kalau makan permen kebanyakan bisa bikin sakit perut dan sakit gigi atau kenapa kalau dia lupa bikin PR, ibu guru akan marah.. dsb..
That simple.
What she doesnt know, is that papa almost had a heart attack from her question.
:p
Sunday, October 16, 2011
PHK: Putus Hubungan Kasih?
Pagi ini, Jo menemukan selembar kertas kecil berwarna oranye bertuliskan tangan si neng.
Bunyinya:
"Hoi XXXX,
Aku putus sama kamu.
Aku liat (kamu sama) Marie, and I just knew"
Upsss, ternyata ada yg lagi patah hati ???
Hihihi..
Sayang, nama si korban pemutusan udah diurek-urek jadi gak ketauan siapa...
But I must say, she did it with style, didn't she?
And no tears.
Chapeau, Meid!
Hahaha..
Sent from my BlackBerry® wireless device
Bunyinya:
"Hoi XXXX,
Aku putus sama kamu.
Aku liat (kamu sama) Marie, and I just knew"
Upsss, ternyata ada yg lagi patah hati ???
Hihihi..
Sayang, nama si korban pemutusan udah diurek-urek jadi gak ketauan siapa...
But I must say, she did it with style, didn't she?
And no tears.
Chapeau, Meid!
Hahaha..
Sent from my BlackBerry® wireless device
Thursday, October 13, 2011
is mama s*xy?
Al dan mama sedang mematut diri di kaca.
Mama : Al, mama seksih ya?
Al : Emm.. iya sih. but less and less.
ihhh.. ini anak enaknya diapain yah *ngunyah sirih*
Mama : Al, mama seksih ya?
Al : Emm.. iya sih. but less and less.
ihhh.. ini anak enaknya diapain yah *ngunyah sirih*
Friday, October 7, 2011
Labelling
Beberapa hari yang lalu saya ngeliat undangan ultah temennya Neng Al. Undangannya sih standar yah, Cuma kertas folio dengan print-printan nama, tgl dan tempat pesta. Trus ada juga foto-foto si anak yg bersangkutan dr bayi sampai umur sekarang.
Saat itu juga saya ngebatin, haduh ini anak kok err.. - maaf..duh jadi gak enak nulisnya – cuma *sekalilagimaaf* saya spontan ngebatin kalau anak ini kok.. err.. kurang cakep yah. (asli saya ngerasa salah langsung nulisnya, but anyway, ini tetep perlu ditulis karena melandasi pemikiran-pemikiran saya selanjutnya). Dan oya, biar anak ini emang ‘gak cakep’ tapi dia baik dan pinteeeeer banget (puji dikit deh biar kesannya gak menghina banget .. hihi)
Nah, waktu itu saya juga mikir, ih ini anak gak cakep kok fotonya dipajang-pajang sih.. hihi
Trus saya sadar, kalau yang namanya ortu (apalagi seorang ibu)-, mo anak cantik, jelek, pinter atau guobloook, biasanya akan tetep menganggep anaknya cakep, jenius, baik, berbudi, dsb.
Pokoknya yang keliatan yang bagus-bagusnya ajah.
Kalau menurut sebuah penelitian yang pernah saya baca sih, saat memandang bayinya, tubuh seorang ibu akan memproduksi hormon tertentu –lupa namanya- yang menyebabkan si ibu gak bisa berpikir rasional lagi. Sehingga, ya itu tadi, sisi negative si anak bakal kabur. Gak terdeteksi.
Eh itu kata science yah. Kalau saya bilang mah, itu mother's instinct dan CINTA.
Tsaaah, sedap...!!!
Memang, nggak semua ibu/ortu begitu kali yah.
Selalu ada pengecualian di dunia ini.
Bilang jelek, bodoh atau payah.
Apakah itu artinya si ortu gak sayang anak?
Jawabnya mungkin iya mungkin tidak (ingat, selalu ada pengecualian!)
Sebagian besar sih mungkin hanya mengekspresikan kekhawatiran dan kasih sayangnya dg cara yg ‘berbeda’; atau mungkin, memang cuma cara itu yg si ortu tahu: mengkritik.
Misal, saat dia menjuluki anaknya dengan ‘si bodoh’, sebenarnya adalah ungkapan kekhawatiran si ortu dengan sikap anaknya yang malas belajar. Dia takut si anak akan ‘kalah’ bersaing dan kurang pintar. Bisa jadi, justru ada harapan yang terkandung di dalam ‘cacian’ itu.
Ingin memacu sang anak agar lebih giat lagi mencari ilmu.
But hey,
Bukan berarti saya setuju yah dengan cara di atas.
Saya justru sebisa mungkin berusaha menghindari memberi label negatif bahkan positif buat anak.
Hah positive juga? Loh kenapa? Kalau label negative kan jelas gak baik karena bisa berdampak buruk pada self esteem anak. Tapi masa gak boleh juga kasih label positif?
Ntar saya ceritaiin alasannya, tapi sekarang saya mo berbagi dulu apa yg pernah saya baca di forum theurbanmama.
Saya lupa persisnya di thread apa dan siapa yang nulis, tapi yang jelas saya berterima kasih sama si penulis dan ngerasa bersyukur bisa baca tulisan itu.
Intinya, ucapan ortu itu adalah doa. Jadi kalau ada anak buandeeel banget (atau penakut atau pemalu atau bodoh), janganlah sampai terucap kata-kata yang berkonotasi negative. Misal "ah dasar emang payah kamu, dek!"
Atau "ah memang pemalu anak ini.."
Apalagi kalau sampai didengar oleh anak yang bersangkutan..
Gini cerita lengkapnya (seinget saya):
Jadi alkisah, jaman dulu di Arab ada seorang ibu yang punya anak buandeeeeeel banget. Pokoknya sedikit-sedikit anak itu bikin onar dan bikin susah ortunya. Tapi, namanya juga ibu yah, tetep sayang sama anaknya. Dan setiap si anak berulah, dia cuma mbatin sambil bilang "Oalah nak, mog-moga kamu besarnya jadi Imam mesjid X "(lupa detailnya).
Dan bener deh.. saat dewasa, si kelakuan si anak berubah 180 derajat, dari si badung jadi imam mesjid besar.
Hebat yah?
Sekali lagi, omongan ibu itu doa…
Coba bayangin sendainya si ibu saat itu menghardik anak dengan kata-kata’ dasar anak bodoh kamu kerjaannya bikin susah orang tua !’.
Duar, saya rasa nasib si anak bakal beda kali..
Loh kalau begitu seharusnya boleh dong kasih label positif, kok tadi saya bilang gak boleh ?
Bentar, saya jelasin dulu. Saya mah gak bilang gak boleh, lagian siapa juga saya ngelarang-ngelarang orang ? :)
Saya cuma balik lagi sama pegangan saya yang super klise : segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik.
Jujur aja saya selalu ‘tergoda’ buat memuji-muji Neng Al.
Iya lah, namanya anake sendiri, udah cakep, pinter, manis, baik hati, penurut.. ehhhh… kebablasan deh hihi…
Tuh kan , emang bawaan emak-emak, maunya ngebanggain anak sendiri aja. Di mana pun, kapanpun.
Tapi ya itu tadi, saya mesti hati-hati juga agar tidak melabel Alyssa secara berlebihan. Kenapa?
karena segala sesatu yang berlebihan tidak baik*iyaaaaa udah tau*
- biar al gak sombong.
Saking seringnya saya muji di cantik, sekarang dia udah ngerasa banget cantik.. hihi.. eh tapi emang bener sih *tetep*
- biar gak beban
menurut saya, pujian yang berlebih bisa jadi beban. Karena sering, dalam suatu pujian terkandung sebuah harapan. And somehow, you will try to live up the expectation yang tersamar dalam pujian tersebut.
Kalau takaran pujiannya pas, harapan yang terkandung itu bisa jadi pengingat tanggung jawab si anak untuk ortunya dan dirinya sendiri.. tapi kalau berlebihan kasihan juga si anak. berat euy idupnya :)
- biar gak jadi gila pujian dan berusaha menyenangkan hidup orang lain
udah jadi instict ortu untuk selalu melindungi anak, memastikan hidupnya nyaman dan hepi, gak ada yang menyakiti. Selalu ingin menyenangkan hati si anak salah satunya dengan memuji. Bahkan mungkin dengan pujian yang mengada-ada, misalnya bilang si anak genius matematika padahal mah biasa-biasa aja. Saat si anak dewasa, dia menyadari kalau ternyata dia nggak canggih-canggih amat. Self esteemnya justru kebanting. Dia nggak siap dikritik atau menerima kenyataan kalau dirinya gak bisa jadi ahli fisika. Padahal it’s ok.. you don’t have to be great in everything kan ? Dan oh ya, karena dia biasa dipuji setiap melakukan segala sesuatu, saat dia hidup di masyarakat yang nggak semurah itu kasih pujian, dia merasa ada yang kurang. He has not done enough. He has to please everybody until he gets the rewards. Dipuji. Dan sebaliknya, saat dia dikritik, dia langsung goyah.. karena gak terbiasa menghadapi komentar negatif.
Look, I’m not saying you cant praise your kids.
You should. Definitely.
Tapi jangan berlebihan sampai ngebebanin si anak atau bikin si anak delusional.
It is our job to prepare our kids to be ready for the wild world out there.
Mereka harus punya kepercayaan diri yang kuat, tough dan skill yang tangguh.
Tapi mereka juga harus paham kekurangan mereka, dan menyadari kalau it’s OK untuk memiliki kekurangan-kekurangan tersebut. It doesnt make them less special, bahkan kita bisa tunjukan gimana caranya ngubah kekurangan tersebut jadi kekuatan. Bersama-sama!
Mereka juga harus belajar untuk menerima kritik, memilih mana yang harus didengarkan dan dicuekin.
And above all, they should know that even with all their imperfections, they are loved unconditionally. BY YOU!
Saturday, October 1, 2011
Girl Talk
Berduaan di suatu malam sama si neng.
Mama: al paling seneng ngapain sama mama?
Al : oh a bit of everything.
Mama: oh thanks! Hey you know what I want? I wanna be a good mom for u.
Al: but you already are..
Mama: *terharu* tapi mama kan suka galak.
Al: ah itu kan galak yg manis *ada gitu galak manis?*
mama kan cuma mau ngajarin aku
Mama: *speechless*
Al: but you also have to learn something, mama
Mama: learn what?
Al: less bla bla *tangannya niruin gaya mulut kalau lg ngomel, mata melirik menggoda*
Ihhh kamu neng, paling pinter mengaduk-aduk perasaan mamah deyyyy :))
Sent from my BlackBerry® wireless device
Mama: al paling seneng ngapain sama mama?
Al : oh a bit of everything.
Mama: oh thanks! Hey you know what I want? I wanna be a good mom for u.
Al: but you already are..
Mama: *terharu* tapi mama kan suka galak.
Al: ah itu kan galak yg manis *ada gitu galak manis?*
mama kan cuma mau ngajarin aku
Mama: *speechless*
Al: but you also have to learn something, mama
Mama: learn what?
Al: less bla bla *tangannya niruin gaya mulut kalau lg ngomel, mata melirik menggoda*
Ihhh kamu neng, paling pinter mengaduk-aduk perasaan mamah deyyyy :))
Sent from my BlackBerry® wireless device
Tuesday, September 27, 2011
narsis
Sebenernya saya gak suka kata narsis, karena i think the word is overused.
Dikit dikit orang bilang narsis. Padahal mah menurut saya kebanyakan orang cuma pede ajah, nggak narsis.
Dan pede itu perlu banget, karena mendingan juga pede dari pada minder! (hihi alesannya gak mutu banget!)
Nah kalau menyangkut si Neng, saya gak tau apakah dia termasuk golongan kaum narsis atau kaum terpede..
Silahkan disimpulkan sendiri dari beberapa peristiwa berikut ini.
Di Airport Soekarno Hatta 31-08-2011
Petugas ngecek paspor : Oh.. ini Alyssa? *membandingkan foto alyssa dengan si neng*
Alyssa: *lenggak-lenggok* : iya, itu akyu.... cantik.
gubrak1.
Di Rumah Oma 27-09-2011
*di meja makan, masih ngomongin soal poni *
Oma : ya ampun, itu poninya jadi pendekkk gitu... untung tetep cantik anaknya
Alyssa: *nyamber* iya, memang aku cantik
Mama: That's what you think!
Alyssa: Not what i think, but i know *muka lempeng*
gubrak2
Tobaaaaaaaaat!!!!
Dikit dikit orang bilang narsis. Padahal mah menurut saya kebanyakan orang cuma pede ajah, nggak narsis.
Dan pede itu perlu banget, karena mendingan juga pede dari pada minder! (hihi alesannya gak mutu banget!)
Nah kalau menyangkut si Neng, saya gak tau apakah dia termasuk golongan kaum narsis atau kaum terpede..
Silahkan disimpulkan sendiri dari beberapa peristiwa berikut ini.
Di Airport Soekarno Hatta 31-08-2011
Petugas ngecek paspor : Oh.. ini Alyssa? *membandingkan foto alyssa dengan si neng*
Alyssa: *lenggak-lenggok* : iya, itu akyu.... cantik.
gubrak1.
Di Rumah Oma 27-09-2011
*di meja makan, masih ngomongin soal poni *
Oma : ya ampun, itu poninya jadi pendekkk gitu... untung tetep cantik anaknya
Alyssa: *nyamber* iya, memang aku cantik
Mama: That's what you think!
Alyssa: Not what i think, but i know *muka lempeng*
gubrak2
Tobaaaaaaaaat!!!!
Poni
Hari Senin kemaren, sebelum sampai rumah, saya telpon Jo.
Si mas bule memperingati saya, kalau bakal ada kejutan begitu sampai rumah. ‘You’ll be in for a surprise. A big one!’
Wih, saya deg-degan.. ada apa gerangan?
Si mas bule memperingati saya, kalau bakal ada kejutan begitu sampai rumah. ‘You’ll be in for a surprise. A big one!’
Wih, saya deg-degan.. ada apa gerangan?
Ternyata oh ternyata, rambut si neng ketempelan permen karet, dan dia memutuskan untuk mengguntingnya sendiri.Saat kejadian, Jo lagi di depan komputer, terus dia ngedenger si neng mondar-mandir lari-lari dari kamar mandi ke ruang tamu. Bulak balik.
Something is wrong, Jo langsung punya feeling gak enak. Langsunglah dia panggil si neng mendekat.
Al pun datang mendekat. Pelan-pelan. Melipir-melipir. Dengan tampang polos, cengar-cengir kayak gak ada apa-apa.
Jo nanya ‘ngapain kamu ?’ si neng jawab.. ‘gakkkkk…’
Jo udah mau balik lagi ke kerjaannya, eh tiba—tiba dia ngerasa ada yang aneh..
Sedetik kemudian dia nyadar kalau poni Al udah jigrak gak jelas. Whahaha
Langsung dong Al dimarahin, dan Al pun langsung ngerasa salah trus dia nanya ‘papa, what would mama say ?’
Jo ngejawab : well that you have to find out later!
Hahahah.. deg-degan dieee…
Something is wrong, Jo langsung punya feeling gak enak. Langsunglah dia panggil si neng mendekat.
Al pun datang mendekat. Pelan-pelan. Melipir-melipir. Dengan tampang polos, cengar-cengir kayak gak ada apa-apa.
Jo nanya ‘ngapain kamu ?’ si neng jawab.. ‘gakkkkk…’
Jo udah mau balik lagi ke kerjaannya, eh tiba—tiba dia ngerasa ada yang aneh..
Sedetik kemudian dia nyadar kalau poni Al udah jigrak gak jelas. Whahaha
Langsung dong Al dimarahin, dan Al pun langsung ngerasa salah trus dia nanya ‘papa, what would mama say ?’
Jo ngejawab : well that you have to find out later!
Hahahah.. deg-degan dieee…
Begitu saya pulang, saya langsung liat tampang si kunyil itu dengan poni gantungnya dan muka bersalah.
Saya langsung cekikikan, gak tahan abis mukanya lucuuuuu banget.
ngeliat saya cekikikan, muka si neng langsung bangga gitu! Hahaha
Trus pas saya foto dia langsunggaya #eaaaa
Saya langsung cekikikan, gak tahan abis mukanya lucuuuuu banget.
ngeliat saya cekikikan, muka si neng langsung bangga gitu! Hahaha
Trus pas saya foto dia langsung
Nggak lama kami ke rumah Oma buat dinner, dan si neng pake kupluk buat winter, buat nutupin poninya.. hihi padahal panas.
Tapi dasar anak keren (karena mamanya juga keren, maklum..) tetep aja cool. Kayak rasta gitu.. J
Sampe di rumah oma, dia malu mo kasih unjuk rambutnya tapi si oma mah udah maklum aja. Kata dia, kenapa sih.. setiap anak pasti adaaaaa aja incident potong rambut sendiri.
Mhuahhaua
Tapi dasar anak keren (karena mamanya juga keren, maklum..) tetep aja cool. Kayak rasta gitu.. J
Sampe di rumah oma, dia malu mo kasih unjuk rambutnya tapi si oma mah udah maklum aja. Kata dia, kenapa sih.. setiap anak pasti adaaaaa aja incident potong rambut sendiri.
Mhuahhaua
Nah, kenapa si Alyssa nekat potong poni sendiri ?
Hmm.. kemungkinan karena hari Sabtu kemaren, saya baru aja potong poni dia, terus dia minta dibolehin nyoba potong poni sendiri.Abis gitu dia juga sempet-sempetnya nawarin untuk ‘gantian’. Habis mama potong poni dia, gantian dia yang potong poni mama.
Ih.. gak sudi lah saya !!! wakakaak !
Jadi yah gitu, kayaknya dia emang udah berhasrat pengen potong rambut sendiri… plus kejadian permen karet.. tambah deh !
Hmm.. kemungkinan karena hari Sabtu kemaren, saya baru aja potong poni dia, terus dia minta dibolehin nyoba potong poni sendiri.Abis gitu dia juga sempet-sempetnya nawarin untuk ‘gantian’. Habis mama potong poni dia, gantian dia yang potong poni mama.
Ih.. gak sudi lah saya !!! wakakaak !
Jadi yah gitu, kayaknya dia emang udah berhasrat pengen potong rambut sendiri… plus kejadian permen karet.. tambah deh !
Kejadian ini ngingetin saya akan ‘tragedi’ beberapa tahun yang lalu saat dia nyukur sebelah alisnya.
Setelah ketakutan dan merasa bersalah abis diwanti-wanti kalau itu gak boleh dan bahaya, saya menghibur dia dengan bilang mukanya jadi tambah imut (soalnya anaknya udah ketakutan banget mo nangis kala itu). (lagian emang bener mukanya jadi kocak banget. Bayangin deh alyssa dengan alis cuma sebelah.. hihi).
Eh, dari tampang sedih gundah gulana, dia langsung senyum bangga lebar banget dan nanya : Jadi aku boleh cukur yang satunya lagi, Mama ?
Lahhh gimana sih ???
Ini sebenernya cara saya yang menasihati / menghibur yang salah, atau emang si neng yang gimanaaaaaa gitu.. hihihi
Oya, yang lebih nyebelin lagi, hari jum’at depan tgl 30 ada foto kelas dan individual di sekolah… Yaaaahh.. masa pas dipoto al pas lagi berponi gak rata gitu sihh ???
Ya udah akhirnya tadi malem, saya potong aja poni ‘labil’nya. Jadinya sekarang poni si neg pendeeeeek banget.
Tapi gak papa lah, anggep aja lagi nge trend.
Untung anaknya cakep.. hihi (dasar emak-emak)!
Friday, September 23, 2011
Courgette wedstrijd
Kalau gak salah sekitar april atau mei deh, alyssa dapet bibit courgette dari perkebunan deket rumah (dikasih via sekolah). Bibitnya lima biji, plus di kasih tips buat nanamnya juga. Trus diselebaran itu juga dikasih tau kalau tgl 5 September, akan ada perlombaan di perkebunan. Setiap anak yg datang bawa courgette, bakal dapet hadiah.. Dan siapa yang cougettenya paling berat, akan jadi pemenangnya!
Al langsung semangat ikutan. Pertama bibit2 courgettenya ditanam di pot, lalu setelah 3 mingguan di pindah ke kebun belakang.
Jujur aja saya ama Jo rada pesimis, soalnya tau sendirilah pengalaman kita dengan tanam-menanam. Kacau berat!
Pernah yah, kita sok-sokan mo nanem bunga. Itupun gak nanem sendiri tapi minta tolong kakeknya Jo buat bikinin potnya plus nanem bunganya. Kita juga minta biar bunganya yang 'tahan banting', biar ngerawatnya gak ribet. Akhirnya kakek si jo ngasih kita 4 pot udah lengkap dengan bunga 'tahan banting, gratis! Asli gak modal buanget. All we have to do, is watering them.
Bisa ditebak, kita lupa! Akhirnya bunganya terancam kekeringan. Saya ama Jo salah2an. Dia pikir saya yang nyiram. Saya berasumsi, dia yang nyiram. Walhasil gak ada yang nyiram!
Sejak insiden itu kita jadi rajin nyiramin kembang. Jo nyiram, saya nyiram. Yang ada bunganya kelelep. MATI.
Geblek!
Nah, makanya gimana saya nggak ngeri dengan niat ambisius Al ikutan kontes courgette? Kalau gagal ntar den ayu itu ngamuk lagi! Udah mana dia semangat banget.. Rajin banget nyiramin dan nengokin courgettenya..
Well, paling gak awalnya.. Hihi
Pas courgette mulai berbuah.. Wihhh kita girang banget sekaligus deg2an!!! Udah mana ada tetangga yang cucunya ikutan kompetisi yg sama, dan perkembangan courgettenya luar biasa pesat! Jauuuuh lebih gede dari punya kita! Haduuuuhhh.. Saya ama Jo takut kalah dong.. Kita ampe berencana buat sabotase courgette si tetangga.. Hihi..
Belon lagi, dari kita lima courgettes yg kita tanem... Ada satu yang bantet, asli numbuhnya segitu2 aja gak gede2.. Trus ada 2 yang dimakan kucing/burung.. Ada satu yg sama sekali gak numbuh... Nah tinggal sebiji yang jadi harapan kita satu-satunya!!!
Thank God,
Sampe beberapa hari sebelum hari H, courgette tunggal kita itu baik-baik saja dan gak kurang suatu apa! Jo langsung potong itu courgette dan hari minggunya, kita bawa courgette tsb ke pesta perkebunan. Ternyata lumayan juga loh.. 2,1 kilo! Wohoooo!!!
Biarpun gak juara, buat kita itu prestasi banget. Alyssa pun seneng dapet kado satu set alat tulis :)
Oya, satu lagi info penting: courgette kita juga bukan yg paling kecil... Intinya, lumayanlah :)
Ada malah yang ngasih courgette gagal.. Hihi.. Saya rasa itu emak bapaknya lupa kalau anaknya disuruh nanem courgette, dan baru inget bbrp minggu sebelum kontes. Makanya courgettenya masih baby gitu! Hihi (aturan beli aja napa di supermarket - kayak plan B saya dan Jo kalau courgette kita gagal tumbuh) ahahahahahay!!!
Sent from my BlackBerry® wireless device
Saturday, September 10, 2011
Cita-Cita
Inget gak cita-cita kamu masih kecil?
Saya inget banget!
Sama seperti puluhan juta anak Indonesia di tahun 80-an, cita-cita saya standar banget: pengen jadi dokter!
Mhuahaha!
Eh, sebenernya sih cita-cita saya ganti-ganti terus, dari pengin jadi dokter, insinyur, pengacara sampai presiden. Tapi ya itu, yang paling keukeuh dipegang, ya yang jadi dokter itu. Dokter Anak tepatnya.
Menjelang SMA, pilihan saya jadi dokter mulai goyah. Waktu itu, keinginan jadi arsitek mulai membayangi. Jadinya 50/50, antara dokter dan arsitek. Eh, gak lama kemudian, pengen belajar tehnik industri dan ekonomi juga. Ga jelas banget deh! Akhirnya saya masuk jurusan fisika (A1) kala itu dengan pertimbangan, jurusan itu yang paling fleksibel, saya masih bisa nerusin ke universitas manapun yang saya mau kala lulus nanti (asal keterima aja! :p)
Setelah mati-matian belajar fisika dan matematika berjam-jam per minggu di sekolah dan tempat les, saya baru nyadar kalau saya sebenernya gak doyan-doyan banget pelajaran eksata. Mhuahaha. Kesian deh!
Saya ingat, saya sampe dibujuk-bujuk masuk kelas sama guru fisika saya yang baik hati waktu itu, karena saya ngambek pegangan tiang di depan kelas gak mau masuk.. Hihihi.. Kayak pelem india banget !!!
Saya juga bolak-balik bolos les masuk UMPTN, dan sekali-kalinya ikut, err apa itu istilahnya, yang kayak simulasi tes UMPTN gitu deh.. saya dan 3 sahabat saya malah membagi soal dan contek-contekan biar cepat kelar dan kita bisa cabut nongkrong di PIM! Saya kebagian ngerjain matematika dasar dan matematika fisika kala itu.. ehmm.. dan hasilnya... nilai matematika fisika saya eh kami (karena jawabannya sama semua): MINUS EMPAT sodara-sodara!
Ya Allahhh.. kelakuannn...
Ampuni aku mamahhh... hihihi
Oya, balik lagi ke soal cita-cita.
Sebelum memilih fakultas mana yang saya mo masukin, saya sempet ikut tes psikologi. Eh, waktu itu cita-cita saya nambah, pengen jadi Psikolog juga! Kwang kwangg...
Tapi ternyata hasil tes menyatakan kalau saya nggak cucok jadi psikolog karena pada dasarnya saya suka cuek sama orang laen. Itu kata si bapak psikolog lohhh yaaaa... Jadi saya nggak disaranin masuk fakultas psikologi. Later on, saya rada nyesel kenapa ngedengerin si bapak ini, karena ternyata sampai sekarang pun saya seneng mempelajari hal-hal yang berbau psikologi.
Aniweii.. si bapak bilang okelah, secara kemampuan intelektual, IQ saya ternyata gak jongkok-jongkok amat dan seharusnya saya mampu mengikuti pelajaran di fakultas kedokteran, tehnik atau ekonomi, tergantung pilihan saya nantinya. Asaaalll, saya mesti belajar bersungguh-sungguh.
Yeyyyy... ngeselin, itu mah nggak usah ke psikolog juga semua orang udah tahu kaleeee!
Singkat kata akhirnya saya milih kuliah di fakultas ekonomi karena:
1. saya males jadi dokter
2. saya gak keterima masuk tehnik (ya iyalah, nilai matematika MINUS begitu. Makanya jangan ngabur mulu kalau sekolah dan les Pan!)
3. sebenernya saya udah gak niat masuk tehnik yang ada gambar-gambarnya karena ngebayangin that I have to use two hands. Saya ngebayangin, kalau belajar ekonomi, kan paling cuma nyatet-nyatet, pake tangan satu aja tangan yang satunya bisa buat.. er ngupilll... atau tinggal bobo-boboan sambil baca buku.. I know it's such a silly reason, but i actually thought that way back then. Pemalas banget yah ternyata saya.
Ah ya sudahlah, singkat kata, saya kuliah di ekonomi, lulus, dan kerja di bidang shipping. Bla bla bla.
Did I like it? No
Do I regret it? No
But if I could turn back time...
Mungkin saya gak akan milih ekonomi lagi. Mungkin saya akan nurutin saran mama saya dulu, belajar jurnalistik. Mungkin saya akan berpikir lebih panjang, lebih lama dan bertanya pada diri saya sendiri, apa sih yang saya suka? saya minati? apa sih bakat saya?
Mungkin saya nggak akan membiarkan diri saya dipengaruhi tren, atau omongan orang, atau ambisi orang lain.
Balik lagi ke cita-cita,
Saya dulu juga sempat punya cita-cita pengin jadi mbak-mbak yang jaga di studio 21.
Soalnya kayaknya kerja mereka enak, seragam cantik, tempat kerja yang adem dan boleh nonton film gratis setiap saat.
Saya pernah juga kepingin jadi SPG counter cosmetics.
Alesannya, bisa dandan dengan produk-produk mahal, ngedandanin orang dan ngeracunin orang buat beli produk yang saya jual, tempat kerjanya di mall! my sanctuary :-)
Atau jadi hairdresser
Gak tau kenapa saya dari dulu kepengen bisa motong rambut orang. Selama ini 'korban' saya cuma si Jo dan Alyssa. Eh, jadi tukang dandanin orang juga asyik kayaknya..
Sempat terlintas juga jadi tour leader.
Enak, bisa jjs gratis ke seluruh dunia, tapi ada bagusnya juga cita-cita saya yang satu ini gak terkabul. Karena kalau saya beneran jadi tour leader, kesian banget wisatawan yang jadi client saya. Yang ada dibentak-bentak mulu kali sama saya.. hihi. Ntar sebelum masuk bus tour harus baris dulu, lencang kanan, jalan di tempat.. hahah (kebiasaan waktu jadi ketua kelas dulu!)
Trus, apakah saya sekarang masih punya cita-cita?
Hmm.. soal keinginan pribadi untuk kerjaan, iyalah.
Ada beberapa malah. Satu diantaranya saya pengin kerja dibidang kemanusiaan. something that i actually care dan syukur-syukur bisa memberi kebaikan buat lingkungan/dunia. Atau kerja di bidang kreatif, kayak nulis-nulis, di media, film dsb. Atau... just a simple job close to home. Kerjaan yang dekeeet banget ama rumah, yang gak ribet dan stresful, mungkin ala-ala SPG counter cosmetics atau mbak-mbak penjaga 21. hihihi
Berdasarkan pengalaman 'masa muda' saya, *cieeeh* saya jadi memaksakan diri saya untuk gak memaksakan suatu ide ke benak Alyssa. Saya gak mau dia mikir, bahwa profesi seorang dokter itu lebih keren dari seorang perawat makanya dia harus jadi dokter. Saya gak mau dia mikir kalau jadi perawat itu kurang bergengsi and make her less valuable. Saya mau dia benar-benar cari tahu apa yang dia mau, dan konsisten menjalaninya. Tanpa dipengaruhi embel-embel gengsi, uang, intimidasi dan lainnya.
Sebagai ortu, saya pastinya punya begitu banyak harapan untuk si neng. Tapi saya harus hati-hati, agar harapan saya tidak menjadi beban untuknya. Saya mau dia tahu, that i love her unconditionally. She doesnt have to prove anything to me.
Saya gak mau, neng menjalanin hidupnya hanya demi membuat saya bangga, membuat saya tidak malu, atau menyenangkan hati saya. Saya mau dia menjalani hidupnya seperti yang dia mau, saya mau dia bahagia karena itu otomatis akan buat saya bahagia juga. Saya mau, apapun pilihannya, apakah jadi insinyur atau polisi, ilmuwan atau jurnalis, pengacara atau hairdresser, penari balet atau astronot, saya akan mendukungnya 100 persen!
Ah, saya kok jadi ngelantur kemana-mana yah..hihi
I guess in the end,
Cita-cita saya adalah pengen liat neng, and my immediate family, happy...
:-)
Saya inget banget!
Sama seperti puluhan juta anak Indonesia di tahun 80-an, cita-cita saya standar banget: pengen jadi dokter!
Mhuahaha!
Eh, sebenernya sih cita-cita saya ganti-ganti terus, dari pengin jadi dokter, insinyur, pengacara sampai presiden. Tapi ya itu, yang paling keukeuh dipegang, ya yang jadi dokter itu. Dokter Anak tepatnya.
Menjelang SMA, pilihan saya jadi dokter mulai goyah. Waktu itu, keinginan jadi arsitek mulai membayangi. Jadinya 50/50, antara dokter dan arsitek. Eh, gak lama kemudian, pengen belajar tehnik industri dan ekonomi juga. Ga jelas banget deh! Akhirnya saya masuk jurusan fisika (A1) kala itu dengan pertimbangan, jurusan itu yang paling fleksibel, saya masih bisa nerusin ke universitas manapun yang saya mau kala lulus nanti (asal keterima aja! :p)
Setelah mati-matian belajar fisika dan matematika berjam-jam per minggu di sekolah dan tempat les, saya baru nyadar kalau saya sebenernya gak doyan-doyan banget pelajaran eksata. Mhuahaha. Kesian deh!
Saya ingat, saya sampe dibujuk-bujuk masuk kelas sama guru fisika saya yang baik hati waktu itu, karena saya ngambek pegangan tiang di depan kelas gak mau masuk.. Hihihi.. Kayak pelem india banget !!!
Saya juga bolak-balik bolos les masuk UMPTN, dan sekali-kalinya ikut, err apa itu istilahnya, yang kayak simulasi tes UMPTN gitu deh.. saya dan 3 sahabat saya malah membagi soal dan contek-contekan biar cepat kelar dan kita bisa cabut nongkrong di PIM! Saya kebagian ngerjain matematika dasar dan matematika fisika kala itu.. ehmm.. dan hasilnya... nilai matematika fisika saya eh kami (karena jawabannya sama semua): MINUS EMPAT sodara-sodara!
Ya Allahhh.. kelakuannn...
Ampuni aku mamahhh... hihihi
Oya, balik lagi ke soal cita-cita.
Sebelum memilih fakultas mana yang saya mo masukin, saya sempet ikut tes psikologi. Eh, waktu itu cita-cita saya nambah, pengen jadi Psikolog juga! Kwang kwangg...
Tapi ternyata hasil tes menyatakan kalau saya nggak cucok jadi psikolog karena pada dasarnya saya suka cuek sama orang laen. Itu kata si bapak psikolog lohhh yaaaa... Jadi saya nggak disaranin masuk fakultas psikologi. Later on, saya rada nyesel kenapa ngedengerin si bapak ini, karena ternyata sampai sekarang pun saya seneng mempelajari hal-hal yang berbau psikologi.
Aniweii.. si bapak bilang okelah, secara kemampuan intelektual, IQ saya ternyata gak jongkok-jongkok amat dan seharusnya saya mampu mengikuti pelajaran di fakultas kedokteran, tehnik atau ekonomi, tergantung pilihan saya nantinya. Asaaalll, saya mesti belajar bersungguh-sungguh.
Yeyyyy... ngeselin, itu mah nggak usah ke psikolog juga semua orang udah tahu kaleeee!
Singkat kata akhirnya saya milih kuliah di fakultas ekonomi karena:
1. saya males jadi dokter
2. saya gak keterima masuk tehnik (ya iyalah, nilai matematika MINUS begitu. Makanya jangan ngabur mulu kalau sekolah dan les Pan!)
3. sebenernya saya udah gak niat masuk tehnik yang ada gambar-gambarnya karena ngebayangin that I have to use two hands. Saya ngebayangin, kalau belajar ekonomi, kan paling cuma nyatet-nyatet, pake tangan satu aja tangan yang satunya bisa buat.. er ngupilll... atau tinggal bobo-boboan sambil baca buku.. I know it's such a silly reason, but i actually thought that way back then. Pemalas banget yah ternyata saya.
Ah ya sudahlah, singkat kata, saya kuliah di ekonomi, lulus, dan kerja di bidang shipping. Bla bla bla.
Did I like it? No
Do I regret it? No
But if I could turn back time...
Mungkin saya gak akan milih ekonomi lagi. Mungkin saya akan nurutin saran mama saya dulu, belajar jurnalistik. Mungkin saya akan berpikir lebih panjang, lebih lama dan bertanya pada diri saya sendiri, apa sih yang saya suka? saya minati? apa sih bakat saya?
Mungkin saya nggak akan membiarkan diri saya dipengaruhi tren, atau omongan orang, atau ambisi orang lain.
Balik lagi ke cita-cita,
Saya dulu juga sempat punya cita-cita pengin jadi mbak-mbak yang jaga di studio 21.
Soalnya kayaknya kerja mereka enak, seragam cantik, tempat kerja yang adem dan boleh nonton film gratis setiap saat.
Saya pernah juga kepingin jadi SPG counter cosmetics.
Alesannya, bisa dandan dengan produk-produk mahal, ngedandanin orang dan ngeracunin orang buat beli produk yang saya jual, tempat kerjanya di mall! my sanctuary :-)
Atau jadi hairdresser
Gak tau kenapa saya dari dulu kepengen bisa motong rambut orang. Selama ini 'korban' saya cuma si Jo dan Alyssa. Eh, jadi tukang dandanin orang juga asyik kayaknya..
Sempat terlintas juga jadi tour leader.
Enak, bisa jjs gratis ke seluruh dunia, tapi ada bagusnya juga cita-cita saya yang satu ini gak terkabul. Karena kalau saya beneran jadi tour leader, kesian banget wisatawan yang jadi client saya. Yang ada dibentak-bentak mulu kali sama saya.. hihi. Ntar sebelum masuk bus tour harus baris dulu, lencang kanan, jalan di tempat.. hahah (kebiasaan waktu jadi ketua kelas dulu!)
Trus, apakah saya sekarang masih punya cita-cita?
Hmm.. soal keinginan pribadi untuk kerjaan, iyalah.
Ada beberapa malah. Satu diantaranya saya pengin kerja dibidang kemanusiaan. something that i actually care dan syukur-syukur bisa memberi kebaikan buat lingkungan/dunia. Atau kerja di bidang kreatif, kayak nulis-nulis, di media, film dsb. Atau... just a simple job close to home. Kerjaan yang dekeeet banget ama rumah, yang gak ribet dan stresful, mungkin ala-ala SPG counter cosmetics atau mbak-mbak penjaga 21. hihihi
Berdasarkan pengalaman 'masa muda' saya, *cieeeh* saya jadi memaksakan diri saya untuk gak memaksakan suatu ide ke benak Alyssa. Saya gak mau dia mikir, bahwa profesi seorang dokter itu lebih keren dari seorang perawat makanya dia harus jadi dokter. Saya gak mau dia mikir kalau jadi perawat itu kurang bergengsi and make her less valuable. Saya mau dia benar-benar cari tahu apa yang dia mau, dan konsisten menjalaninya. Tanpa dipengaruhi embel-embel gengsi, uang, intimidasi dan lainnya.
Sebagai ortu, saya pastinya punya begitu banyak harapan untuk si neng. Tapi saya harus hati-hati, agar harapan saya tidak menjadi beban untuknya. Saya mau dia tahu, that i love her unconditionally. She doesnt have to prove anything to me.
Saya gak mau, neng menjalanin hidupnya hanya demi membuat saya bangga, membuat saya tidak malu, atau menyenangkan hati saya. Saya mau dia menjalani hidupnya seperti yang dia mau, saya mau dia bahagia karena itu otomatis akan buat saya bahagia juga. Saya mau, apapun pilihannya, apakah jadi insinyur atau polisi, ilmuwan atau jurnalis, pengacara atau hairdresser, penari balet atau astronot, saya akan mendukungnya 100 persen!
Ah, saya kok jadi ngelantur kemana-mana yah..hihi
I guess in the end,
Cita-cita saya adalah pengen liat neng, and my immediate family, happy...
:-)
Thursday, September 8, 2011
Berkemah
*posted in theurbanmama 11/08/2011, klik link untuk lihat foto-foto (kalau mau :-))*
Ingat cerita Lima Sekawan karya Enid Blyton?
Sejak kecil, saya selalu iri dengan petualangan Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy yang super seru. Apalagi kalau mereka sedang menginap di caravan atau tenda, tidur di bawah bintang-bintang, membuat api unggun, dan berpiknik sambil menikmati kue-kue, sardines dan limun jahe! Wah rasanya keren dan asyik sekali. Sampai terbawa mimpi.
Tahun lalu, impian masa kecil saya yang sempat terkubur dan terlupakan itu mulai terusik. Saat melewati satu daerah perkemahan sewaktu berkunjung ke Luxembourg, saya melihat banyak sekali keluarga yang menghabiskan liburan mereka dengan berkemah. Entah itu dengan menggunakan tenda, caravan atau mobile home. Wih, sepertinya relaks banget. Anak-anak bermain di pinggir sungai atau sekadar berlarian di rerumputan sementara para ortu duduk-duduk santai di depan tenda mereka, terkadang sambil menyiapkan makan malam yang sedang dibakar di barbeque. Jauh dari keribetan kota besar, stress, atau glamour. Pokoknya simpel, santai dan back to nature.
Untungnya, bukan cuma saya saja yang tergiur, suami saya pun jadi terkenang masa kecilnya yang suka diajak berkemah oleh keluarganya. Jadilah kami sepakat, musim panas tahun ini kami akan pergi berkemah. Yay!
Setelah heboh membeli perlengkapan (tenda, kursi dan meja lipat, air matras, sleeping bags, etc) kami memutuskan untuk berkemah di daerah pegunungan di Belgia. Kebetulan kami menemukan tempat perkemahan berbintang empat dengan fasilitas kolam renang, playground, restoran, lapangan tenis, bulu tangkis, dan sepak bola. Tempat itu juga mengorganisir berbagai aktivas yang menarik untuk keluarga (mini-disco dan membuat prakarya untuk si kecil, acara-acara olah raga (termasuk zumba!), bingo, sulap, dll). Seorang kenalan yang pernah kemping di sana pun merekomendasikan tempat ini. Katanya bersih dan sangat cocok untuk acara liburan keluarga.
Saat rencana mulai tertata rapi, saya malah sempat sedikit deg-degan. Bagaimana jika ternyata saya tidak suka berkemah? Harus tidur di tenda, buang air di toilet umum, mandi di kamar mandi bersama…
Namun demi mewujudkan cita-cita masa kecil, saya tetap nekad berangkat. Lagipula, nggak mungkin kayaknya saya membatalkan rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari ini. Bisa-biasa Neng Al dan Papa Jo ngambeg berat sama saya.
Malam pertama, saya nyaris tidak bisa tidur gara-gara beberapa kali terbangun mendengar suara angin yang menderu-deru. Saya takut tenda kami roboh, atau hujan deras yang akan membuat kami basah kuyup!
Untungnya hal tersebut tidak terjadi, tenda kami kuat sampai akhir kemping, dan saat hujanpun barang-barang kami tetap kering! Malam-malam selanjutnya, saya bisa tidur dengan nyenyak dan Alyssa yang biasanya lasak pun, justru bisa tidur dengan sangat tenang selama berkemah. Mungkin perpaduan udara yang segar di alam terbuka yang membuat kami bisa tidur luar biasa enak?
Kekhawatiran saya tentang WC dan kamar mandi umum juga ternyata tidak beralasan. Setiap fasilitas di lokasi kemping selalu terjaga kebersihannya. Kamar mandinya terdiri dari bilik-bilik yang menyediakan ruang ganti dan shower. Air hangat pun tersedia, nggak perlu takut kedinginan!
Kesimpulannya, kami sekeluarga jatuh cinta dengan berkemah dan berjanji kapan-kapan akan melakukannya lagi. Oya, satu hal yang paling saya suka saat kemping ini adalah; no TV for 4 days!
Mau nggak mau, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Saat bosan pun, kalau biasanya kita langsung setel TV tanpa berpikir panjang, kali ini kita ‘dipaksa’ untuk bermain bersama. Entah itu catur, kartu, gundu, atau sekedar ngobrol-ngobrol sambil berpiknik di depan tenda.
Jadi kalau anda sekeluarga sedang mencari alternatif liburan yang back to nature dan sangat refreshing, mungkin berkemah bisa jadi pilihan!
Saya dengar, di Indonesiapun, sudah ada lokasi-lokasi perkemahan yang juga menyediakan tenda-tenda sewaan. So tunggu apalagi?
Tips:
Ingat cerita Lima Sekawan karya Enid Blyton?
Sejak kecil, saya selalu iri dengan petualangan Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy yang super seru. Apalagi kalau mereka sedang menginap di caravan atau tenda, tidur di bawah bintang-bintang, membuat api unggun, dan berpiknik sambil menikmati kue-kue, sardines dan limun jahe! Wah rasanya keren dan asyik sekali. Sampai terbawa mimpi.
Tahun lalu, impian masa kecil saya yang sempat terkubur dan terlupakan itu mulai terusik. Saat melewati satu daerah perkemahan sewaktu berkunjung ke Luxembourg, saya melihat banyak sekali keluarga yang menghabiskan liburan mereka dengan berkemah. Entah itu dengan menggunakan tenda, caravan atau mobile home. Wih, sepertinya relaks banget. Anak-anak bermain di pinggir sungai atau sekadar berlarian di rerumputan sementara para ortu duduk-duduk santai di depan tenda mereka, terkadang sambil menyiapkan makan malam yang sedang dibakar di barbeque. Jauh dari keribetan kota besar, stress, atau glamour. Pokoknya simpel, santai dan back to nature.
Untungnya, bukan cuma saya saja yang tergiur, suami saya pun jadi terkenang masa kecilnya yang suka diajak berkemah oleh keluarganya. Jadilah kami sepakat, musim panas tahun ini kami akan pergi berkemah. Yay!
Setelah heboh membeli perlengkapan (tenda, kursi dan meja lipat, air matras, sleeping bags, etc) kami memutuskan untuk berkemah di daerah pegunungan di Belgia. Kebetulan kami menemukan tempat perkemahan berbintang empat dengan fasilitas kolam renang, playground, restoran, lapangan tenis, bulu tangkis, dan sepak bola. Tempat itu juga mengorganisir berbagai aktivas yang menarik untuk keluarga (mini-disco dan membuat prakarya untuk si kecil, acara-acara olah raga (termasuk zumba!), bingo, sulap, dll). Seorang kenalan yang pernah kemping di sana pun merekomendasikan tempat ini. Katanya bersih dan sangat cocok untuk acara liburan keluarga.
Saat rencana mulai tertata rapi, saya malah sempat sedikit deg-degan. Bagaimana jika ternyata saya tidak suka berkemah? Harus tidur di tenda, buang air di toilet umum, mandi di kamar mandi bersama…
Namun demi mewujudkan cita-cita masa kecil, saya tetap nekad berangkat. Lagipula, nggak mungkin kayaknya saya membatalkan rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari ini. Bisa-biasa Neng Al dan Papa Jo ngambeg berat sama saya.
Malam pertama, saya nyaris tidak bisa tidur gara-gara beberapa kali terbangun mendengar suara angin yang menderu-deru. Saya takut tenda kami roboh, atau hujan deras yang akan membuat kami basah kuyup!
Untungnya hal tersebut tidak terjadi, tenda kami kuat sampai akhir kemping, dan saat hujanpun barang-barang kami tetap kering! Malam-malam selanjutnya, saya bisa tidur dengan nyenyak dan Alyssa yang biasanya lasak pun, justru bisa tidur dengan sangat tenang selama berkemah. Mungkin perpaduan udara yang segar di alam terbuka yang membuat kami bisa tidur luar biasa enak?
Kekhawatiran saya tentang WC dan kamar mandi umum juga ternyata tidak beralasan. Setiap fasilitas di lokasi kemping selalu terjaga kebersihannya. Kamar mandinya terdiri dari bilik-bilik yang menyediakan ruang ganti dan shower. Air hangat pun tersedia, nggak perlu takut kedinginan!
Kesimpulannya, kami sekeluarga jatuh cinta dengan berkemah dan berjanji kapan-kapan akan melakukannya lagi. Oya, satu hal yang paling saya suka saat kemping ini adalah; no TV for 4 days!
Mau nggak mau, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Saat bosan pun, kalau biasanya kita langsung setel TV tanpa berpikir panjang, kali ini kita ‘dipaksa’ untuk bermain bersama. Entah itu catur, kartu, gundu, atau sekedar ngobrol-ngobrol sambil berpiknik di depan tenda.
Jadi kalau anda sekeluarga sedang mencari alternatif liburan yang back to nature dan sangat refreshing, mungkin berkemah bisa jadi pilihan!
Saya dengar, di Indonesiapun, sudah ada lokasi-lokasi perkemahan yang juga menyediakan tenda-tenda sewaan. So tunggu apalagi?
Tips:
- Location, location location! Cari lokasi perkemahan yang ternama dengan fasilitas yang baik dan keamanan terjamin. Di beberapa negara di Eropa, mereka juga punya sistem bintang (seperti hotel) yang memudahkan kita memilih mana yang paling tepat untuk keluarga.
- Bawa perlengkapan yang dibutuhkan. Tenda, lampu, peralatan memasak dan makan/minum, cool box, kursi, meja lipat, lampu, senter, dll.
- Sebelum pergi berkemah, coba dulu peralatan Anda. Jangan sampai, saat di lokasi, ternyata anda tidak tahu cara memasang tenda dengan baik. Wah, bisa gagal acara kempingnya!
- Jangan lupa obat-obatan, P3K, toiletries, tabir surya, lotion anti nyamuk, topi, gel antiseptik, tissue basah dan kering.
- Baju renang, mainan anak (halma, ular tangga, kartu, catur, dll), buku/majalah.
- Untuk yang pertama kali kemping, mungkin bisa dicoba dulu saat weekend atau long weekend (2-4 hari). Jangan langsung memutuskan untuk berlibur 2 minggu dengan berkemah, who knows it’s not your thing. Atau sebagai alternatif, kenapa tidak mencoba dulu berkemah di halaman belakang rumah?
- Bawa kantung sampah dan pastikan kita tidak menyampah sembarangan. Sekalian mengajari anak pentingnya menjaga kebersihan dan menghormati lingkungan kita.
- Cari info tentang perkiraan cuaca, sebisa mungkin jangan kemping saat musim hujan atau salju!
- Bawa extra selimut, baju hangat dan jas hujan / payung untuk jaga-jaga jika cuaca memburuk.
- Tinggalkan lap top, portable TV/DVD, kalau perlu smart phone Anda di rumah! Saatnya bersantai dengan keluarga and back to nature!
Wednesday, September 7, 2011
Irit
Di suatu sore yang mendung saat sedang menanti giliran les berkuda, terjadilah percakapan antar ibu dan anak yang sangat mengharukan:
Ibu : Eh Neng, itu ada yang jual es krim. Kamu mau?
Anak : Apa mama mau beliin?
Ibu : Iya, yuk beli yuk.
Anak : Betul boleh?
Ibu : Iya!
Anak : Ah, gak usah deh Mama.
Ibu : Loh kenapa? Bener boleh kok.
Anak : Jangan ah, nanti uang mama habis.
Ibu : Nggak, bener kok mama punya uang *ngebatin apa gerangan yang menyebabkan si anak berpikir kalau si mama kere banget*
Anak : Nggak lah, lebih baik uang mama disimpan untuk membeli yang sehat-sehat saja.
Ibu : Yah, sesekali gak papa kok. Kita kan mesti seneng-seneng juga dalam hidup *mulai filosofis*
Anak : Nggak usah mama.. Aku makan es-nya kalau di rumah oma aja. Jadi uang mama tetep utuh.
Oalah.. sungguh kau anak yang baik hati dan penuh pengertian.
Semoga hidupmu selalu dimudahkan Nak.
Dan bahagia selalu.
Amin.
Tuesday, September 6, 2011
Karena di Indonesia banyak orangnya...
Saat pulang kampuang kemarin, di WC di bandara Ngurah Rai, Bali, Alyssa bertanya ke saya:
"Mama, kenapa sih di Indonesia WC-nya kotor-kotor?"
Ehm, saya tercenung.
Nggak bisa menjawab.
Dalam pikiran saya terlintas jawaban-jawaban sebagai berikut:
* soalnya orang Indonesia jorok-jorok
* mereka nggak disiplin
* karena kebiasaannya membasuh dengan air, jadi sering becek.
* dsb
Tapi tentunya saya nggak menjawab dengan jawaban di atas. Apalagi jawaban yang cenderung 'menghina' alias bersifat negatif dan mendiskreditkan orang Indo. Nggak lah, saya pun juga orang Indo kan? Sesama item, pesek, dilarang saling mencela!
Untung, sebelum saya keliatan bego karena gak punya jawaban, Alyssa keberu nyeletuk duluan. Seperti biasa, dia selalu punya jawaban (ajaib) untuk pertanyaan-pertanyaan (ajaibnya). Untungnya punya anak pinter, emaknya jadi gak keliatan bego-bego amat.
"Oh aku tahu mama!" Seperti biasa jawaban si neng di sertai seruan penuh semangat sambil matanya menatap saya, sumringah.
" Soalnya di Indonesia, banyak sekali orang!!!"
Lalu dia manggut-manggut penuh keyakinan.
Sayapun ikut manggut-manggut. Kompak.
Pikir punya pikir, sebenernya perkataan si neng itu menjawab semua permasalahan di Indonesia.
Emang kayaknya negara ini kebanyakan orang.
Saya jadi yakin, segala masalah kemacetan, korupsi, banjir, dsb pasti bisa diatasi jikalau Indonesia gak kebanyakan orang.
Alyssa for President ?
:P
"Mama, kenapa sih di Indonesia WC-nya kotor-kotor?"
Ehm, saya tercenung.
Nggak bisa menjawab.
Dalam pikiran saya terlintas jawaban-jawaban sebagai berikut:
* soalnya orang Indonesia jorok-jorok
* mereka nggak disiplin
* karena kebiasaannya membasuh dengan air, jadi sering becek.
* dsb
Tapi tentunya saya nggak menjawab dengan jawaban di atas. Apalagi jawaban yang cenderung 'menghina' alias bersifat negatif dan mendiskreditkan orang Indo. Nggak lah, saya pun juga orang Indo kan? Sesama item, pesek, dilarang saling mencela!
Untung, sebelum saya keliatan bego karena gak punya jawaban, Alyssa keberu nyeletuk duluan. Seperti biasa, dia selalu punya jawaban (ajaib) untuk pertanyaan-pertanyaan (ajaibnya). Untungnya punya anak pinter, emaknya jadi gak keliatan bego-bego amat.
"Oh aku tahu mama!" Seperti biasa jawaban si neng di sertai seruan penuh semangat sambil matanya menatap saya, sumringah.
" Soalnya di Indonesia, banyak sekali orang!!!"
Lalu dia manggut-manggut penuh keyakinan.
Sayapun ikut manggut-manggut. Kompak.
Pikir punya pikir, sebenernya perkataan si neng itu menjawab semua permasalahan di Indonesia.
Emang kayaknya negara ini kebanyakan orang.
Saya jadi yakin, segala masalah kemacetan, korupsi, banjir, dsb pasti bisa diatasi jikalau Indonesia gak kebanyakan orang.
Alyssa for President ?
:P
Saturday, August 6, 2011
family first
Kadang, saya curiga kalau Alyssa diem-diem suka streaming sinetron Indonesia. Atau jangan-jangan dia malah nonton ACI, Keluarga Cemara atau sinetron-sinetron hidayah lainnya.
Habisnya, yaoloooo, bukan cuma ngomongnya yang suka lebay dan dramatis, tapi sok teladan bener deh.. :))
Contohnya hari ini dia lagi nonton tipi di bawah sementara mama papa lagiberasyik-masyuk bercengkrama di kamar, tiba-tiba dia naik ke atas, nyempil di antara kami (seperti biasa mengeggol-egolkan pantatnya cari tempat di tengah sehingga mau gak-mau mama papa geser kasih tempat buat si unyil ini), habis itu dia ngomong, dengan muka lempeng sok manis.
"Mama, Papa,
Sebenernya aku pengen nonton SpongeBob, tapi lalu aku berpikir tentang keluarga kecilku, mana yang lebih penting? Jadi aku ke sini bersama kalian"
Saya ama Jo cuma liat-liatan, putar mata sambil senyum-senyum.
Eh tapi, sekarangsaya jadi mikir.
Apa ini sebenernya cara neng nyindir saya yah, soalnya dua malam yang lalu saya paksa-paksa dia bobo supaya saya bisa nonton Army Wives di tipi. hihihi..
Habisnya, yaoloooo, bukan cuma ngomongnya yang suka lebay dan dramatis, tapi sok teladan bener deh.. :))
Contohnya hari ini dia lagi nonton tipi di bawah sementara mama papa lagi
"Mama, Papa,
Sebenernya aku pengen nonton SpongeBob, tapi lalu aku berpikir tentang keluarga kecilku, mana yang lebih penting? Jadi aku ke sini bersama kalian"
Saya ama Jo cuma liat-liatan, putar mata sambil senyum-senyum.
Eh tapi, sekarangsaya jadi mikir.
Apa ini sebenernya cara neng nyindir saya yah, soalnya dua malam yang lalu saya paksa-paksa dia bobo supaya saya bisa nonton Army Wives di tipi. hihihi..
Friday, July 22, 2011
Ultah Neng
Tgl 21 July, dirayakan sebagai Hari Nasional Belgia sekaligus hari ultah cewek cantik ini :)
Seperti biasa, di malam ultahnya, Neng boleh bobo sama papa dan mama dan paginya dibangunin dengan nyanyian selamat ulang tahun plus kue tart berlilin. Neng pun langsung terbangun dengan sumringah dan malu-malu(tanpa males-malesan seperti biasa :-))
Kami terus pergi ke Bobbejanland, semacam fun park deket rumah.
Untung cuaca lumayan oke, padahal sebelumnya udah diprediksi bakal hujan, tapi ternyata cerah - mendung tapi gak dingin dan gak hujan dan gak panas. Cocok banget buat ke fun park!
Malamnya kami makan malam di rumah nenek buyut neng dengan kel. besar Jo (lumayan, irit.. nggak usah bikin pesta udah dipestain sama moeke.. hihi)
Oya, Neng sekarang berasa udah gede banget deh! Dia nggak sudi lagi maen di wahana anak-anak. Maunya yang 'cepat dan menegangkan dan tidak membosankan'
Diajak naik ferris wheel atau komidi putar aja, gak mau dia... gayaaaa...
Jadilah kita naik segala jenis jet coasters sampai 20 kali ada mungkin... *mamapuyeng*
Neng juga ngotot pengen naek ini dengan turunannya yang sadiiiis!
Seperti biasa, di malam ultahnya, Neng boleh bobo sama papa dan mama dan paginya dibangunin dengan nyanyian selamat ulang tahun plus kue tart berlilin. Neng pun langsung terbangun dengan sumringah dan malu-malu(tanpa males-malesan seperti biasa :-))
![]() |
| Tart dan Mahkota - made with love by Mama |
| just woke up !!! |
a big card for our big girl |
| di Bobbejanland |
Kami terus pergi ke Bobbejanland, semacam fun park deket rumah.
Untung cuaca lumayan oke, padahal sebelumnya udah diprediksi bakal hujan, tapi ternyata cerah - mendung tapi gak dingin dan gak hujan dan gak panas. Cocok banget buat ke fun park!
Malamnya kami makan malam di rumah nenek buyut neng dengan kel. besar Jo (lumayan, irit.. nggak usah bikin pesta udah dipestain sama moeke.. hihi)
Oya, Neng sekarang berasa udah gede banget deh! Dia nggak sudi lagi maen di wahana anak-anak. Maunya yang 'cepat dan menegangkan dan tidak membosankan'
Diajak naik ferris wheel atau komidi putar aja, gak mau dia... gayaaaa...
Jadilah kita naik segala jenis jet coasters sampai 20 kali ada mungkin... *mamapuyeng*
Neng juga ngotot pengen naek ini dengan turunannya yang sadiiiis!
Aje gileeee... saya aja gak berani...
Untung, tinggi Al belon mencukupi. Hah!!!!
Oya, bulan Juni kemaren (sebelum libur musim panas) kami juga sempet merayakan ultahnya si neng dengan teman-teman sekolahnya.
Here is the pic:
Biasanya, kita juga ngadain BBQ sama keluarga Jo di rumah, tapi kayaknya tahun ini kita nggak bikin pesta di sini, soalnya kita udah mo ke Jakarta bentar lagi.
Jadi, pestanya bakal sama Uti deh di Indo.
Yay!
Sunday, July 10, 2011
Aku juga ingin bahagia, mama!
Inget cerita tabungan si neng di sini?
Ceritanya kan saya super bangga kalau si neng membagi 2/3 tabungannya untuk 'anak miskin'.
Eehh.. ternyata, beberapa hari kemudian, saat Al nunjukin tempat rahasia tabungannya sama papa (cuma ditunjukkin ke papa, mama nggak dikasih tahu :)), dia berubah pikiran.
Jadilah itu duit dituker. 2/3 untuk Alyssa, dan 1/3 untuk anak miskin.
Trus, saya tanya.
'Lah, kok dituker Al?'
Al menatap saya, tajam.
'Mama, aku kan juga ingin bahagia!' katanya.
Duilee, biasa aja napa neng, jawabnya!
Ceritanya kan saya super bangga kalau si neng membagi 2/3 tabungannya untuk 'anak miskin'.
Eehh.. ternyata, beberapa hari kemudian, saat Al nunjukin tempat rahasia tabungannya sama papa (cuma ditunjukkin ke papa, mama nggak dikasih tahu :)), dia berubah pikiran.
Jadilah itu duit dituker. 2/3 untuk Alyssa, dan 1/3 untuk anak miskin.
Trus, saya tanya.
'Lah, kok dituker Al?'
Al menatap saya, tajam.
'Mama, aku kan juga ingin bahagia!' katanya.
Duilee, biasa aja napa neng, jawabnya!
Friday, July 8, 2011
I'm watching you!!!!
Inget gayanya Papa Focker kalau bilang 'I'm watching you' ?
Nah, bayangin kalau si imut Neng yang begitu.
Contoh 1.
Dia lagi makan/minum tapi harus pergi kemana dulu sebentar (misal pipis). Maka dia akan bilang 'Mama, jangan makan makanan aku yah! Jangan di sentuh. Awas!' Tampangnya sok galak terus dia nyureng sambil bikin gerakan 'I'm watching you' kayak di atas.
Contoh 2.
Dia mesti ninggalin mama-papa berduaan. Dan karena dia curiga mama-papanya bakal 'ngapa-ngapain berdua', maka dia bikin gerakan I'm watching you deh..
Hihi Kocak banget kalau dia udah sotoy begitu. Kesannya sangar tapi unyuuuuuu... :))
| pic taken from ramascreen.com |
Nah, bayangin kalau si imut Neng yang begitu.
Contoh 1.
Dia lagi makan/minum tapi harus pergi kemana dulu sebentar (misal pipis). Maka dia akan bilang 'Mama, jangan makan makanan aku yah! Jangan di sentuh. Awas!' Tampangnya sok galak terus dia nyureng sambil bikin gerakan 'I'm watching you' kayak di atas.
Contoh 2.
Dia mesti ninggalin mama-papa berduaan. Dan karena dia curiga mama-papanya bakal 'ngapa-ngapain berdua', maka dia bikin gerakan I'm watching you deh..
Hihi Kocak banget kalau dia udah sotoy begitu. Kesannya sangar tapi unyuuuuuu... :))
Tuesday, July 5, 2011
Nasehat Cinta
Pagi ini, saat mengantar Al ke rumah Oma, neng tiba-tiba bertanya:
"Mama, what would you do if a guy lies to you?"
Glek. Saya menelan ludah.
Nggak siap dengan pertanyaan macam begitu yang diajukan oleh anak yang belum juga tujuh tahun.
Just when i thought that we're finally over the 'Q&A' period.
Just when i thought we've answered the most difficult question over baby making
Jadilah saya bengong. Dan karena buru-buru mau ngantor, saya jawab asal aja "mama bakal balik ngibulin dia". heuheu. ketauan jawabannya nervous dan gak dipikir mateng-mateng.. walaupun mungkin sebenernya jujur dari hati yag paling dalemmmm !!! :)
Dan malem ini, saat kami barengan mandi ditemani temaram cahaya lilin (neng suka sok romantis gitu pasang lilin kalau pas mandi :)).. dia menanyakan lagi pertanyaan yang sama.
Kali ini, saya bertanya balik,
"Memang, siapa yang ngibulin kamu?"
"Runar " jaab neng menyebut nama pacarnya.
"Oh, emang dia bilang apa"
"Dia bilang ke semua orang kalau dia cinta aku padahal dia bohong" jawab neng emosi ambil melenggok-lenggok genit (kok bisa emosi sambil genit? yah, itu emang cuma neng yang bisa)
"oh.." *lah si mama cuma bisa 'oh-ah-oh-ah' doang*
"Aku tahu!" neng berseru, dia emang selalu punya jawaban-jawaban cemerlang dari pertanyaannya sendiri (well, at least lebih cemerlang daripada jawabnn mama yang suka dodol ini)
"Aku akan bilang kalau Runar is a lying monkey!"
HEH?
Saya terkejut.
Walaupun jujur aja, saya rada-rada bangga juga sih.
Hihi, bener neng, jangan mau digombalin laki :))
Habis itu, si neng langsung cerita soal gebetannya yang lain. Anak kelas 3 loh...
Kayaknya dia mah nggak perlu diajarin lagi konsep 'there are plenty of fish in the sea... " yah!!
uhuk!
"Mama, what would you do if a guy lies to you?"
Glek. Saya menelan ludah.
Nggak siap dengan pertanyaan macam begitu yang diajukan oleh anak yang belum juga tujuh tahun.
Just when i thought that we're finally over the 'Q&A' period.
Just when i thought we've answered the most difficult question over baby making
Jadilah saya bengong. Dan karena buru-buru mau ngantor, saya jawab asal aja "mama bakal balik ngibulin dia". heuheu. ketauan jawabannya nervous dan gak dipikir mateng-mateng.. walaupun mungkin sebenernya jujur dari hati yag paling dalemmmm !!! :)
Dan malem ini, saat kami barengan mandi ditemani temaram cahaya lilin (neng suka sok romantis gitu pasang lilin kalau pas mandi :)).. dia menanyakan lagi pertanyaan yang sama.
Kali ini, saya bertanya balik,
"Memang, siapa yang ngibulin kamu?"
"Runar " jaab neng menyebut nama pacarnya.
"Oh, emang dia bilang apa"
"Dia bilang ke semua orang kalau dia cinta aku padahal dia bohong" jawab neng emosi ambil melenggok-lenggok genit (kok bisa emosi sambil genit? yah, itu emang cuma neng yang bisa)
"oh.." *lah si mama cuma bisa 'oh-ah-oh-ah' doang*
"Aku tahu!" neng berseru, dia emang selalu punya jawaban-jawaban cemerlang dari pertanyaannya sendiri (well, at least lebih cemerlang daripada jawabnn mama yang suka dodol ini)
"Aku akan bilang kalau Runar is a lying monkey!"
HEH?
Saya terkejut.
Walaupun jujur aja, saya rada-rada bangga juga sih.
Hihi, bener neng, jangan mau digombalin laki :))
Habis itu, si neng langsung cerita soal gebetannya yang lain. Anak kelas 3 loh...
Kayaknya dia mah nggak perlu diajarin lagi konsep 'there are plenty of fish in the sea... " yah!!
uhuk!
Monday, July 4, 2011
Tabungan Neng Alyssa
Pengakuan, i think we spoil Alyssa a bit too much.
Walaupun pas saya hamil dulu, mas bule udah berikrar kalau dia nggak akan memanjakan Alyssa dengan mainan dsb, tapi pada kenyataannya siapa sih yang bisa tahan bilang 'nggak' kalau si neng udah mengerjap-ngerjapkan matanya dan meminta sesuatu?
Lalu bagaimana dengan saya sendiri, mamanya?
Lebih parah!
Secara saya emang doyan belanja, jadi kadang malah saya yang nyuruh-nyuruh Al buat beli padahal anaknya sendiri kadang gak mau.. hihi.
Duo mama papa masih ditambah lagi dengan keluarga besar kami. Mulai dari keluarganya Jo sampai keluarga saya (apalagi!) membanjiri si neng dengan kado. dari kado natal, lebaran, tahun baru, paskah, sinterklas, kado hari senin, hari selasa, hari rabu, kado kenaikan kelas... Adaaa aja alesan kasih kado!
Dan sekarang, saya takut lama-lama neng nggak bisa menghargai semua yang dia punya karena datangnya terlalu mudah. Tinggal tunjuk, dia dapet.
Memang sih, beberapa kali, dia harus menabung untuk mendapatkan apa yang dia mau. Seperti waktu dia mau Nintendo DSi dua tahun lalu, dia nabung, ngamen, sampe berniat jual mainan bekas dia. Tapi ya itu, kami nggak konsisten sehingga akhirnya balik lagi ke kebiasaan lama.
Saya perhatikan, setiap kali kita jalan-jalan, Al pasti dapat sesuatu. Entah itu mainan kecil macam puzzle, atau sesuatu yang lebih istimewa. Secara harga, mungkin memang tidak selalu mahal, tapi sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit kan? Lebih baik uangnya ditabung.
Dan itu bukan cuma masalah uang saja, tapi juga prinsipal. Kadang saya mendapati mainan baru yang digelatakan begitu saja di rumah sampai beberapa hari tanpa dibuka...
Saya merasa, sudah saatnya AL belajar untuk lebih menghargai - bukan cuma uang atau materi - tapi juga kerja keras, proses, sabar, displin, konsekuensi sebab akibat dan sebagainya . Juga, -ini penting- supaya AL belajar mengatur finansial dan tanggung jawab.
Duh, berat banget kayaknya!
Intinya sih biar Al juga belajar nabung, atau semakin paham konsep-konsep macam 'oh, kalau gue nggak beli Barbie, duitnya bisa ditabung sampai cukup beli Nintendo 3D'. Ini contoh yah. Intinya neng bisa belajar juga nerapin skala prioritas dan belajar untuk memahami bahwa she cant not have everything. Most of the time, you need to choose!
Oya satu lagi (buanyakkk :)), saya gak mau neng tumbuh jadi spoiled brat yang mengira semua harus disuguhkan padanya dalam bungkusan emas. Atau tumbuh jadi orang clamitan. amit-amit *knocking on wood*. If she wants something, earn it! Work hard and smart for it and be proud for it!
Begitcuuu..
Karena itu, kami sepakat bahwa mulai hari minggu kemarin (3 juli 2011 - bertepatan dengan ultah Uti!), Al akan dapat uang jajan mingguan dan 2 celengan.
Celengan pertama, untuk menabung uang yang akan digunakan untuk belanja keinginan AL.
Celengan kedua, untuk menabung uang bagi yang lebih membutuhkan..atau Al bilang 'untuk anak miskin'.
Pilihannya ada di neng, berapa dia akan membagi untuk celengan pertama dan kedua. bahkan kalau dia mau simpan semua untuk dirinya sendiri pun boleh. Pokoknya terserah neng!
Setelah dibahas, neng sangat excited.
Tapi papa mengingatkan, bahwa dengan begini, neng gak boleh minta beliin ini itu lagi. Kita stop beli-beli buat neng, kecuali acara spesial kayak ultah yah..
Plus, kita juga bilang kalau kita akan menerapkan sangsi. Kalau minggu itu Al nakal, uang jajannya berkurang/hangus. Dan kalau neng pintar/membantu mama papa, mungkin uang jajannya nambah. Bahkan ntar kalau gedean, neng boleh bantu-bantu potonng rumput atau nyuci mobil kek ke oma atau tetangga biar dapet 'upah' .
Trus si Papa ngasih contoh semua 'kenakalan neng'
".. misal, Alyssa gak mau mandi, potong duit jajannya!"
"..atau Alyssa nangis meraung-raung gak jelas, potong!"
dst..
tiba-tiba si centil itu nyaut,
"Oh, bagus dong.. kalau dipotong terus.. yah mama papa jadinya beliin aku mainan aja, gak usah nabung (balik ke konsep lama)"
hihihi, genius! papa langsung bete.
Hmm.. let's see, apakah project ini akan berhasil.
Bukan cuma Al yg harus disiplin, tapi mama papa juga kudu kuat iman dan tegas! haha
Harapan kami, semoga Al jadi lebih menghargai arti kerja keras, uang, menabung, sharing dan lebih sabar. If you want something, you have to earn it and fight for it and WAIT patiently!
Sebelumnya ada satu juga ketakutan kita sih, yaitu takut neng jadi tambah pelit. Habis sekarang saja, kalau kita disodorin rekening (misal abis makan di resto), neng langsung ngomong sama pelayannya 'itu rekeningnya bukan untuk aku yah, biar papa aja yang bayar'..
Hihi, dia udah ketakutan duluan disuruh bayarin mama papanya.. :))
Tapiiii.. ternyata nggak juga.
Buktinya kemaren, pertama kali dia dapat uang jajan (sedikit lebih karena papa mama nggak punya duit pas), neng justru membaginya 2/3 untuk 'anak miskin' dan '1/3' untuk neng.
So sweet yah :) ?
Walaupun pas saya hamil dulu, mas bule udah berikrar kalau dia nggak akan memanjakan Alyssa dengan mainan dsb, tapi pada kenyataannya siapa sih yang bisa tahan bilang 'nggak' kalau si neng udah mengerjap-ngerjapkan matanya dan meminta sesuatu?
Lalu bagaimana dengan saya sendiri, mamanya?
Lebih parah!
Secara saya emang doyan belanja, jadi kadang malah saya yang nyuruh-nyuruh Al buat beli padahal anaknya sendiri kadang gak mau.. hihi.
Duo mama papa masih ditambah lagi dengan keluarga besar kami. Mulai dari keluarganya Jo sampai keluarga saya (apalagi!) membanjiri si neng dengan kado. dari kado natal, lebaran, tahun baru, paskah, sinterklas, kado hari senin, hari selasa, hari rabu, kado kenaikan kelas... Adaaa aja alesan kasih kado!
Dan sekarang, saya takut lama-lama neng nggak bisa menghargai semua yang dia punya karena datangnya terlalu mudah. Tinggal tunjuk, dia dapet.
Memang sih, beberapa kali, dia harus menabung untuk mendapatkan apa yang dia mau. Seperti waktu dia mau Nintendo DSi dua tahun lalu, dia nabung, ngamen, sampe berniat jual mainan bekas dia. Tapi ya itu, kami nggak konsisten sehingga akhirnya balik lagi ke kebiasaan lama.
Saya perhatikan, setiap kali kita jalan-jalan, Al pasti dapat sesuatu. Entah itu mainan kecil macam puzzle, atau sesuatu yang lebih istimewa. Secara harga, mungkin memang tidak selalu mahal, tapi sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit kan? Lebih baik uangnya ditabung.
Dan itu bukan cuma masalah uang saja, tapi juga prinsipal. Kadang saya mendapati mainan baru yang digelatakan begitu saja di rumah sampai beberapa hari tanpa dibuka...
Saya merasa, sudah saatnya AL belajar untuk lebih menghargai - bukan cuma uang atau materi - tapi juga kerja keras, proses, sabar, displin, konsekuensi sebab akibat dan sebagainya . Juga, -ini penting- supaya AL belajar mengatur finansial dan tanggung jawab.
Duh, berat banget kayaknya!
Intinya sih biar Al juga belajar nabung, atau semakin paham konsep-konsep macam 'oh, kalau gue nggak beli Barbie, duitnya bisa ditabung sampai cukup beli Nintendo 3D'. Ini contoh yah. Intinya neng bisa belajar juga nerapin skala prioritas dan belajar untuk memahami bahwa she cant not have everything. Most of the time, you need to choose!
Oya satu lagi (buanyakkk :)), saya gak mau neng tumbuh jadi spoiled brat yang mengira semua harus disuguhkan padanya dalam bungkusan emas. Atau tumbuh jadi orang clamitan. amit-amit *knocking on wood*. If she wants something, earn it! Work hard and smart for it and be proud for it!
Begitcuuu..
Karena itu, kami sepakat bahwa mulai hari minggu kemarin (3 juli 2011 - bertepatan dengan ultah Uti!), Al akan dapat uang jajan mingguan dan 2 celengan.
Celengan pertama, untuk menabung uang yang akan digunakan untuk belanja keinginan AL.
Celengan kedua, untuk menabung uang bagi yang lebih membutuhkan..atau Al bilang 'untuk anak miskin'.
Pilihannya ada di neng, berapa dia akan membagi untuk celengan pertama dan kedua. bahkan kalau dia mau simpan semua untuk dirinya sendiri pun boleh. Pokoknya terserah neng!
Setelah dibahas, neng sangat excited.
Tapi papa mengingatkan, bahwa dengan begini, neng gak boleh minta beliin ini itu lagi. Kita stop beli-beli buat neng, kecuali acara spesial kayak ultah yah..
Plus, kita juga bilang kalau kita akan menerapkan sangsi. Kalau minggu itu Al nakal, uang jajannya berkurang/hangus. Dan kalau neng pintar/membantu mama papa, mungkin uang jajannya nambah. Bahkan ntar kalau gedean, neng boleh bantu-bantu potonng rumput atau nyuci mobil kek ke oma atau tetangga biar dapet 'upah' .
Trus si Papa ngasih contoh semua 'kenakalan neng'
".. misal, Alyssa gak mau mandi, potong duit jajannya!"
"..atau Alyssa nangis meraung-raung gak jelas, potong!"
dst..
tiba-tiba si centil itu nyaut,
"Oh, bagus dong.. kalau dipotong terus.. yah mama papa jadinya beliin aku mainan aja, gak usah nabung (balik ke konsep lama)"
hihihi, genius! papa langsung bete.
Hmm.. let's see, apakah project ini akan berhasil.
Bukan cuma Al yg harus disiplin, tapi mama papa juga kudu kuat iman dan tegas! haha
Harapan kami, semoga Al jadi lebih menghargai arti kerja keras, uang, menabung, sharing dan lebih sabar. If you want something, you have to earn it and fight for it and WAIT patiently!
Sebelumnya ada satu juga ketakutan kita sih, yaitu takut neng jadi tambah pelit. Habis sekarang saja, kalau kita disodorin rekening (misal abis makan di resto), neng langsung ngomong sama pelayannya 'itu rekeningnya bukan untuk aku yah, biar papa aja yang bayar'..
Hihi, dia udah ketakutan duluan disuruh bayarin mama papanya.. :))
Tapiiii.. ternyata nggak juga.
Buktinya kemaren, pertama kali dia dapat uang jajan (sedikit lebih karena papa mama nggak punya duit pas), neng justru membaginya 2/3 untuk 'anak miskin' dan '1/3' untuk neng.
So sweet yah :) ?
Subscribe to:
Posts (Atom)









